26 Juni 2024

`

Petani Kopi di Ngantang Kembangkan Kopi Selo Parang

3 min read

MALANG, TABLOIDJAWATIMUR.COM – Inovatif dan kreatif menjadi salah kunci sukses dalam berbisnis. Dengan mencoba beragam model pembuatan kopi, akhirnya Siswanto (50), warga Dusun Gagar, Desa Tulungrejo, RT 17/RW 07, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang, Jawa Timur, menemukan sejumlah varian kopi.

 

Direktur Operasional Perum Jasa Tirta I, Milfan Rantawi, meninjau gerai kopi milik Siswanto (50), warga Dusun Gagar, Desa Tulungrejo, RT 17/RW 07, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Sabtu (10/06/2023) siang.

DITEMUI di rumahnya yang juga jadi gerai kopi, Siswanto mengisahkan perjuangannya mengolah biji kopi bersama istrinya, Yetik Ratna Ningsih, hingga menemukan bubuk kopi murni yang diberi nama Selo Parang, yang berarti batu tebing.

Pasutri dengan satu anak ini menjelaskan awal mula berbisnis kopi. Sambil sesekali menyeduh kopi hasil racikannya, Siswanto menceritakan suka duka bergelut di bisnis minuman kopi. Banyak halangan dan rintangan yang dihadapi sebelum akhirnya sukses dengan cita rasa kopi yang diharapkan seperti saat ini.

“Saya mulai menanam kopi sekitar tahun 2019 di atas lahan seluas kurang lebih 2 hektar. Setelah usia sekitar 2 tahun, mulai berbuah dan bisa dipanen. Dalam menanam kopi, tidak dalam satu usia yang sama, sehingga panennya bisa berkelanjutan,” terang Siswanto, ditemui di rumahnya, Sabtu (10/06/2023) siang.

Direktur Operasional Perum Jasa Tirta I, Milfan Rantawi, menikmati kopi hasil racikan Siswanto (50), warga Dusun Gagar, Desa Tulungrejo, RT 17/RW 07, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Sabtu (10/06/2023) siang.

Namun hasil panen tidak selalu seperti yang diharapkan. Dan hal itulah yang menjadikan dirinya terus berfikir dan belajar. Ternyata, dari pembelajaran dan kreasinya, malah menghasilkan kopi seperti yang diinginkan. Inovasi itu terus dilakukan hingga menghasilkan cita rasa kopi yang khas dan digemari masyarakat luas.

“Panen pertama hasilnya kurang memuaskan. Biji kopinya kecil-kecil. Karena itu saya dan teman- teman berfikir untuk menaman beragam jenis kopi. Bahkan mengkloning kopi dengan jenis kopi lain,” katanya seraya menambahkan untuk hasil kopi dengan cira rasa khas, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Mulai pemilihan biji kopi, metode pengeringan, sampai proses sangrai atau penggorengan.

Pada sekitar tahun 2021, ia komunikasi dengan Perum Jasa Tirta I dalam hal pinjaman permodalan. Bahkan ia menjadi binaan BUMN yang bergerak dalam pengelolaan sumber daya air sungai ini. Bantuan pinjaman itu kemudian dimanfaatkan dengan baik, diwujudkan dalam bentuk mesin sangrai kopi.

Akhmad Taufiq, mantan Camat Ngantang bersama petani kopi di Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang, Jawa Timur, beberapa waktu lalu.

“Banyak metode memasak kopi yang kami lakukan. Setiap hasil kami coba rasanya. Ketika belum menemukan cita rasa yang pas, kami ulang dengan modifikasi dan SOP tertentu, hingga hasilnya sudah bisa dinikmati. Kami bersyukur dapat bantuan dari Jasa Tirta, karena sangat membantu dalam percepatan produksi. Bahkan disuport juga dalam metode pemasaran,” imbuhnya.

Istrinya, Yetik Ratna Ningsih, sangat mendukung tekadnya berbisnis kopi. Terlebih dapat bantuan dari Jasa Tirta yang diwujudkan mesin sangrai. “Dengan adanya mesin sangria ini, penggorengan jauh lebih cepat. Tenaganya pun ekonomis dan terbantu. Kalau dengan mesin, untuk sekitar 6 kg kopi, membutuhkan waktu sekitar 30 menit. Setiap hari mampu sangrai sekitar 50 kilogram. Dan akhirnya saat ini malah bisa melayani jasa sangrai dari masyarakat. Mulai kopi murni hingga campuran, kedelai, dan kacang,” jelasnya.

Saat ini, sejumlah varian kopi telah berhasil dikembangkan. Mulai kopi robusta fermentasi, kopi lanang, kopi Arabica, dan kopi exelsa. Harganya bervariasi, mulai Rp 120 ribu hingga di atas Rp 200 ribu per kilogram.

Pasutri ini berharap Jasa Tirta bisa mensupport lagi sehingga usahanya terus berkembang dan makin diminati masyarakat luas. Kini, pemasaran kopinya telah merambah di berbagai daerah di Malang Raya serta luar daerah. (aji/mat)