TABLOID JAWA TIMUR

Informasi Daerah Jawa Timur

Salah satu mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) mengamati mesin dehydrator hemat daya.

Mahasiswa UB Ciptakan Mesin Dehidrator Mie Kering Hemat Daya

Mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) Malang, Jawa Timur menciptakan mesin dehydrator hemat daya untuk mengering mie.

MALANG, TABLOIDJAWATIMUR.COM – Lima mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) Malang, Jawa Timur dari berbagai displin ilmu, berkolaborasi menciptakan mesin dehidrator hemat daya. Mesin ini dibuat untuk membantu Kedai Mie Serdadu, di Kota Batu, yang terkendala pengeringan mie hasil produksinya.

 

LIMA MAHASISWA itu, Delia (FT’18), Ihza (FT’18), Charis (FT’19), Khadafi (FMIPA’18), dan Sarah (FTP’18). Mereka dibimbing Raden Arief Setyawan, ST, MT, selaku dosen pembimbing.

Delia Dwi Novrianti, mahasiswi Teknik Elektro Semester 7 yang menjadi ketua tim menjelaskan, mesin dehydrator mie kering ini memiliki konsep memanfaatkan teknologi Infarared, sehingga laju pengeringannya cukup tinggi, hemat energi,  distribusi suhunya seragam, sehingga dapat menghasilkan mutu produk yang lebih baik.

Salah satu mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) mengamati mesin dehydrator hemat daya.

“Pemanasan mesin ini lebih mampu mempertahankan nutrisi mie kering dibandingkan pengeringan dengan oven atau mesin pengering lainnya, karena suhu pengeringan terdistribusi secara merata di seluruh permukaan,” terang Delia Dwi Novrianti, Rabu (21/07/2021) siang melalui rilis yang dikirim lewat emailnya.

Delia menambahkan, pengeringan mie menggunakan mesin dehydrator ini tidak membutuhkan tenaga tambahan. Padahal, kalau pengeringan menggunakan oven, masih membutuhkan tenaga tambahan untuk membolakbalikkan mie agar pematangannya lebih merata.

“Inovasi ini dilatarbelakangi oleh permasalahan Kedai Mie Serdadu, Kota Batu dalam memenuhi pesanan mie kering.  Mereka butuh mesin pengering mie yang hemat daya, guna meningkatkan pendapatan melalui pemenuhan permintaan produk mie kering  dari berbagai daerah,  khsusnya luar Pulau Jawa,” terangnya.

Dodi, pemilik Kedai Mie Serdadu, menjelaskan, sebelum pandemic COVID-19  hingga saat ini,  produk mie keringnya terus meningkat. Sebagian besar permintaan berasal dari luar Jawa. “Namun saya terkendala dalam proses pengeringan. Saat ini,  saya menggunakan  mesin oven untuk pengeringan. Nmun kapasitasnya sangat kecil, biaya listriknya juga besar, dan masih perlu tenaga tambahan untuk membolakbalikkan mie-nya,” ungkapnya.

Delia Dwi Novrianti, mahasiswi Teknik Elektro Semester 7 yang menjadi ketua tim.

Dengan adanya permasalahan tersebut, lima mahasiswa Universitas Brawijaya berkolaborasi menciptakan mesin dehihdrator hemat daya. Menurut Delia, keunggulan  mesin ini, mesin berbasis Internet of Things sehingga terdapat fitur monitoring proses pengeringan yang dapat dilakukan dengan jarak dekat maupun jarak jauh. Monitoring jarak jauh dapat dilakukan dengan menggunakan web yang dapat diakses melalui smartphone atau personal computer pengguna.

“Kami dari berbagai fakultas yang berbeda, saling berkolaborasi untuk menciptakan mesin ini agar bermanfaat bagi Mie Serdadu selaku mitra kami dalam meningkatkan pendapatannya. Selain itu kami juga menambahkan berbagai fitur kemudahan yang dapat dinikmati oleh pengguna dalam melakukan proses pengeringan mie, seperti akses monitoring, pengendalian suhu otomatis,  dan penggunaan daya yang relatif kecil, ” ujar Delia.

Hasil karya mahasiswa UB ini telah mendapatkan bantuan dana dari Kemdikbud dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) bidang Penerapan IPTEK. Mereka akan berjuang mewakili Universitas Brawijaya pada seleksi PIMNAS XXXIV  Agustus 2021 mendatang. (delia dwi novrianti, teknik elektro UB/mat)