23 Februari 2024

`

Pembelajaran Hybrid, Tidak Efektif dan Tidak Memuaskan

2 min read

MALANG, TABLOIDJAWATIMUR.COM – Pandemi COVID-19 yang terjadi sejak awal 2020 hingga pertengahan 2022 lalu, menjadi tantangan tersendiri bagi para pengajar, salah satunya pengajar di bidang kesehatan dan klinis. Karena itu dibutuhkan inovasi-inovasi dan teknologi agar proses belajar mengajar tetap berjalan.

 

Ada tari-tarian dalam 2nd International Conference on Medical and Health Science (ICMedH) 2022 yang diselenggarakan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jawa Timur, secara daring Sabtu (24/09/2022).

 

HAL TERSEBUT disampaikan Prof. Dr. Eduardo Pons-Fuster Lopez, saat menjadi narasumber dalam 2nd International Conference on Medical and Health Science (ICMedH) 2022  yang diselenggarakan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jawa Timur, secara daring  Sabtu (24/09/2022).

Melalui pers rilis yang didapat redaksi tabloidjawatimur.com dari Humas UMM, Selasa (27/09/2022) siang, Eduardo, peneliti dari Departemen Anatomi Manusia dan Psikobiologi Fakultas Kedokteran University of Murcia, Spanyol, ini menjelaskan, terkait tantangan dalam pembelajaran anatomi manusia selama pandemi, ia membagi pembelajaran dalam tiga skenario,  yakni virtual, hybrid,  dan luring.

Wakil Rektor I UMM, Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si.

“Rancangan strategi pengajaran selama masa pandemi dilakukan secara virtual melalui zoom, di mana terdapat dokumentasi-dokumentasi pendukung berupa foto dan video pembelajaran. Ujian pun dilakukan secara daring. Ketika situasi sudah dirasa sedikit membaik, pembelajaran diubah menjadi model hybrid. Ketika sudah membaik, prosesnya bisa diubah menjadi offline dengan penerapan social distancing,” terangnya.

Ia juga telah melakukan evaluasi terkait pembelajaran anatomi selama pandemi. Data yang ada menunjukkan, nilai ujian mahasiswa di bulan Januari 2020 lebih baik dibandingkan Juni dan Juli 2020 saat pandemi mulai menyerang.

“Januari 2020 nilai rata-rata mahasiswa berada diangka 5,9/10 dan yang berhasil melewati ujian ada sebanyak 70%. Sedangkan ketika pandemi dan menggunakan skenario pembelajaran virtual, angka kelulusan berada diangka 43,5% dengan nilai rata-rata 4,16/10. Sementara dalam skenario kelas hybrid, angka kelulusannya hanya 30%, dengan rata-rata nilai 2,56/10,” jelasnya.

Baginya, untuk mempelajari anatomi manusia, pembelajaran tatap muka adalah pembelajaran yang paling efektif. Pembelajaran secara virtual juga masih memungkinkan untuk digunakan. Akan tetapi, pembelajaran hybrid dirasa tidak efektif dan tidak memberikan kepuasan bagi para mahasiswa.

Turut hadir dalam kegiatan ini  lebih dari 70 peneliti dan pekerja kesehatan untuk menjelaskan artikel ilmiah sekaligus menambah jaringan kolaborasi.

Sementara itu, Wakil Rektor I UMM, Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si, menilai, konferensi nasional maupun internasional memiliki peran penting. Utamanya dalam merawat atmosfer pendidikan di lingkungan perguruan tinggi. Ia ingin agar di pelaksanaan tahun ini, ICMedH mampu memberikan solusi dan terobosan melalui paper-paper terkait kesehatan.

“Konferensi semacam ini tentu memberikan banyak benefit, seperti pertukaran pikiran dan ide, pengembangan riset, bahkan  membangun kolaborasi sesama peneliti untuk melakukan penelitian baru. Semoga di tahun depan, ICMedH dapat dilaksanakan kembali,” pungkas Syamsul. (div/mat)