22 April 2024

`

Mahasiswa UMM Ciptakan Aplikasi Pendeteksi Penyakit Padi

2 min read

MALANG, TABLOIDJAWATIMUR.COM – Sejumlah mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jawa Timur, membuat aplikasi pemindai penyakit pada padi. Namanya, E-Rice Detector. Aplikasi yang telah diajukan dalam Program Kreatifitas Mahasiswa-Karsa Cipta (PKM-KC) dan berhasil mendapatkan pendanaan ini dapat mendeteksi dan mengklasifikasi penyakit pada padi.

 

Inilah mahasiswa UMM yang menciptakan E-Rice Detector, aplikasi pemindai penyakit pada padi.

 

Salah satu mahasiswa UMM bersama petani saat mempraktekan E-Rice Detector, aplikasi pemindai penyakit pada padi.
Inilah fitur E-Rice Detector, aplikasi pemindai penyakit pada padi.

ULFAH Nur Oktaviana, ketua tim mahasiswa menjelaskan, aplikasi ini dapat mendeteksi dan mengklasifikasi penyakit pada padi. Didukung dengan Deep Learning, sistem berbasis Artificial Intelegence (AI), aplikasi ini akan memudahkan petani dalam mendeteksi penyakit yang menjangkiti padi. “E-Rice Detector dilengkapi dengan Sistem AI dengan metode Deep Learning. Dengan begitu, petani bisa mendeteksi adanya penyakit sehingga akan membantu mencegah terjadinya gagal panen,” katanya, Senin (30/08/2021).

Salah satu mahasiswa UMM bersama petani saat mempraktekan E-Rice Detector, aplikasi pemindai penyakit pada padi

Ulfah memaparkan, E-Rice Detector memiliki empat fitur unggulan. Pertama, Pindai Penyakit Padi,  yakni fitur utama yang disediakan. Nantinya, pengguna hanya perlu mengambil gambar daun padi dan memilih tombol centang. Kemudian akan muncul hasil, klasifikasi, serta deteksi penyakitnya. “Pemindaian ini memilik akurasi mencapai 97%,” katanya.

Kedua, fitur  Pesan Otomatis. Ini semacam Chat Bot yang memberikan informasi terkait penyakit padi, penjual pupuk,  dan harga padi per-kecamatan. Ketiga, fitur Daftar Penyakit yang menyediakan daftar dan informasi penyakit padi yang ada di setiap kecamatan. Keempat, fitur Berita,  yang menyajikan berita dan informasi terkini dari para pakar pertanian.

“E-rice ini tidak hanya digunakan sebagai deteksi penyakit. Lebih dari itu, kami juga akan menyediakan bantuan informasi dan berita mengenai pertanian,” ujarnya.

Mahasiswa Informatika UMM ini mengatakan,  dalam upaya mematangkan E-Rice Detector, timnya telah melakukan User Acceptance Test (UAT), yakni tahap uji coba aplikasi. “Aplikasi E-Rice Detector telah diuji coba di Kabupaten  Gresik, Tulungagung, Lamongan, dan Nganjuk. Respon masyarakat sangat bagus. Mereka senang dan merasa terbantu dengan E-Rice Detector.  Selain itu, kami juga telah melakukan uji coba blackbox untuk memastikan seluruh fitur bekerja sesuai yang diinginkan,” terang Ulfa.

Dalam pengembangannya, Ulfah ditemani Tiara Intana Sari, Naufaldi Izad Firmana, dan Ricky Hendrawan dari jurusan Informatika. Adapula Alfian Dwi Khoirul Annas (mahasiswa Agroteknologi UMM). Mereka dibimbing oleh Galih Wasis Wicaksono, S.kom,. M.Cs.

Proyek E-Rice Detector ini telah diajukan melalui Program Kreatifitas Mahasiswa-Karsa Cipta (PKM-KC) dan berhasil mendapatkan pendanaan. Proses perancangannnya memakan waktu tiga bulan dan kini sudah siap didaftarkan di Play Store.

Ulfah dan kawan-kawan berharap aplikasi ini mampu menyelesaikan masalah kerugian pertanian karena penyakit. Selain itu dapat menjadi langkah baru revolusi industri di dunia pertanian. “Perkembangan teknologi seharusnya bisa digunakan untuk membantu pertanian dan mempermudah informasi dari pemerintah kepada petani,” harapnya. (div/mat)