Syekh Ibrahim Asmaraqandi di Tuban, Jawa Timur

Ajarkan Ilmu Tauhid, Benahi Akhlak Pemuda Majapahit

Kedatangan Syekh Ibrahim Asmaraqandi ke tanah Jawa, guna memenuhi undangan Raja Majapahit kala itu, Brawijaya bersama sang istri, Dewi Dwarawati. Sebab, kondisi rakyat di kerajaan tersebut sangat memprihatinkan. Para kawula mudanya, hidup bermalas-malasan. Kesehariannya haya menenggak minuman keras, berantem dan mencuri hingga membuat para orang tua dan punggawa Majapahit khawatir sekaligus resah akan masa depan para kawula mudanya. Berhasilkah Syekh Ibrahim Asmaraqandi memperbaiki akhlak para kawula muda Majapahit ?

 

Lokasi makam Syekh Ibrahim Asmaraqandi di Desa Gesikharjo, Kecamatan Palang, Tuban.

SIAPA sejatinya Syekh Ibrahim Asmaraqandi? Sejarah mencatat, tokoh linuwih dalam babagan ilmu agama Islam ini berasal dari Samarkandi, bagian wilayah di Rusia. Makamnya berada di Desa Gesikharjo, Palang, Tuban, Jawa Timur. Sejarah mencatat pula, Mbah Asmaraqandi merupakan ayah dari Sunan Ampel, yang makamnya berada di kawasan Ampel, Surabaya dan Raden Santri, kondang dijuluki dengan Syekh Ali Murtadha dan putra dari Syekh Jumadil Kubro. Artinya beliau adalah kakak dari Maulana Ishaq atau ayah dari Sunan Giri, yang makamnya ada di Giri, Gresik, Jawa Timur.

Perihal kedatangannya ke tanah Jawa, Mbah Asmaraqandi, seperti tertulis pada sejumlah babat sejarah Majapahit dan tanah Jawa, atas undangan atau permintaan dari Raja Majapahit Brawijaya, bersama sang istri Dewi Dwarawati. Sebab kala itu, kondisi kehidupan para kawula muda di Majapahit sangat memprihatinkan.

Mabuk-mabukan, berjudi dan mencuri, adalah perilaku rata-rata anak muda di Majapahit kala itu. Perilaku seperti itu, membuat para orang tua menjadi resah, demikian pula dengan para punggawa kerajaan, juga sangat prihatin, sebab mereka tak lagi mau memikirkan masa depan dan bekerja dengan baik. Nah, melihat gaya hidup para kawula muda yang tak patut itulah, akhirnya Raja Brawijaya mengutus Mbah Asmaraqandi untuk datang. Tujuannya jelas, untuk membina akhlak para generasi muda supaya tak larut pada gaya hidup yang dekat dengan kemaksiatan.

Singkat cerita, Mbah Asmaraqandi pun meluluskan permintaan sang raja, untuk datang ke kerajaannya, Majapahit. Beliau datang bersama putra kinasihnya, Raden Rahmatullah. Tapi dalam rombongan yang terdiri dari para petinggi Majapahit tersebut, dalam perjalanannya dari Smarkand yang lewat jalur laut itu, kapal yang ditumpanginya menyempatkan singgah di Tuban dan melalui pesisir utara Jawa inilah rombongan menuju ke Majapahit.

Dari sekian banyak rombongan dalam kapal tersebut, Maulana Ibrahim bersama istrinya, tak turut serta sampai ke Majapahit. Akan tetapi, hanya sampai di Tuban dan di tempat itu, beliau berdakwah. Tapi Mbah Asmaraqandi tak terus berpatah arang. Sadar akan beratnya tugas yang diembannya, beliau pun dengan dilambari oleh hati yang ikhlas lahir batin untuk membantu sesama, tugas berat itupun dilakoninya dengan beragam masalah yang mesti ia hadapi.

 

BERTANI DAN MELAUT
Kehidupan layaknya musafir dilakoni oleh Mbah Asmaraqandi. Sukses membengkeli akhlak kaum muda Majapahit yang rusak akibat pola hidup yang keliru, Mbah Asmaraqandi kembali ke Tuban. Di tempat tersebut, kehidupan beliau bercocok tanam. Cara ini ditempuh untuk menyambung kelangsungan hidup beliau bersama isteri tercintanya.

Manakala waktu senggang, Mbah Asmaraqandi menyalurkan klangenannya, yakni melaut yang kala itu kawasan pesisir Tuban sungguh sangat menjanjikan. Penduduk yang sehari-harinya menangkap ikan, saat musim ikan tiba, mereka mendapatkan penghasilan yang lebih dari biasannya.

Kondisi ini sangat kontras dengan mereka yang hidup dengan bertani, bukan sebagai nelayan. Selain panen mereka yang tergantung pada musim, tak jarang hama tanaman menyerang padi dan palawija yang ditanamnya. Tapi, tugas yang paling utama beliau adalah mengajarkan ilmu ketahuidan yang terkandung dalam agama Islam sekaligus mengajarkan bagaimana manyembah Gusti Allah SWT dengan cara yang benar.

Tugas menyebarkan agama Islam sekaligus menjadi panutan para pengikutnya. Ini memang suatu pekerjaan yang teramat sulit. Oleh sebab itu, dalam usahanya mengajarkan tuntunan agama tersebut, Mbah Asmaraqandi dibantu oleh para santri-santrinya. Caranya, dengan mendirikan masjid tak jauh dari tempat tinggalnya. Di rumah Allah itulah beliau bersama para santrinya mulang muruk ngaji.

Waktu pun terus berlalu, keberadaan masjid yang didirikan oleh almarhum bersama santri-santrinya, saat ini masih utuh. Letaknya tak jauh dari masjid utama yang megah.

Adapun jasad almarhum dengan istrinya, juga disumarekan tak jauh dari lokasi masjid. Menurut penuturan juru kunci makam, tiap harinya tak kurang dari seratus peziarah yang mendatangi makamnya. Volume peziarah meningkat berlipat-lipat menjelang datangnya bulan Ramadhan. Maksud peziarah nyekar di makam waliullah ini pun bermacam ragam.*