TABLOID JAWA TIMUR

Informasi Daerah Jawa Timur

Sebelum Dipulangkan, Mantan GAFATAR Baca Syahadat Lagi

Gus Wahid, dari MUI, membimbing eks anggota GAFATAR.
Gus Wahid, dari MUI, membimbing eks anggota GAFATAR asal Kab. Malang membaca syahadat.

Ratusan korban pengikut Gerakan Fajar Nusantara (GAFATAR) asal Jawa Timur, akhirnya dipulangkan ke kampung halamannya masing-masing, termasuk Kabupaten Malang. Sebelum dipulangkan, mereka dibina terlebih dulu agar kembali ke pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Islam. Bahkan, sebelum dipulangkan, mereka disuruh membaca dua kalimah syahadat.

Menurut catatan Dinas Sosial Kabupaten Malang, jumlah anggota eks GAFATAR asal Kabupaten Malang sebanyak 17 orang, dari 4 KK (kepala keluarga). Sebelum dipulangkan, mereka ditampung terlebih dulu di UPTD Loka Bina Karya Dinas Sosial Jl. Raya Banjarejo 97 Kecamatan Pakis. Sebelumnya, mereka sempat ditampung di Asrama Transito, Dinas Transmigrasi dan Kependudukan Jawa Timur, Surabaya.

Pada Rabu (27/1/2016) lalu, mereka dipulangkan ke daerahnya masing-masing, meliputi Desa Kromengan dan Karangrejo, Kecamatan Kromengan, Desa Kademangan, Kecamatan Pagelaran, dan Desa Jambangan, Kecamatan Dampit.

Penjabat (PJ) Bupati Malang Ir. Hadi Prasetyo ME berpesan kepada eks pengikut GAFATAR untuk‎ memulai hidup baru, berpikir bagaimana membina kehidupan keluarga yang lebih baik, dengan berusaha dan berjuang.‎

“Kita ini semua sama. Saya juga pernah berjuang, dan mencoba berbagai hal. Banyak rintangan yang kita hadapi. Tidak ada jalan yang enak lurus. Langit pun tidak selalu biru, terkadang muncul awan, hujan, petir, kilat. Yang terpenting saat ini adalah bagaimana membuat keluarga ini hidup lebih baik lagi,” katanya.

PJ. Bupati Malang menambahkan, pemerintah akan terus berusaha semaksimalnya untuk membina dan menyejahterakan masyarakat. Pemerintah juga akan membantu dan memfasilitasi semua kepentingan masyarakat. Sebagai langkah awal, Pemerintah Kabupaten Malang —melalui Dinas Sosial—- menyerahkan bantuan berupa sembako dan uang sebesar Rp. 500.000 kepada masing-masing kepala keluarga.

 

PEMBINAAN BERBANGSA DAN BERNEGARA
Sebelum dipulangkan ke desanya masing-masing, 17 korban pengikut GAFATAR disuruh membaca kalimat syahadat sebagai bentuk pemulihan agar tetap menjadi pemeluk agama Islam.‎ Pembacaan kalimat syahadat ini dipandu KH. Abdul Wahid Ghozali atau Gus Wahid dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Malang.

Usai membaca dua kalimat syahadat, empat orang perwakilan keluarga, yaitu Suhartono, Edi Priono, Suharto, dan Sukirno menandatangani surat pernyataan yang berisi empat hal. Pertama, pernyataan untuk setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Kedua, menjalankan kehidupan beragama dengan baik dan benar serta bersedia menjaga kerukunan antar umat beragama, Ketiga, mampu berinteraksi dengan masyarakat sekitar, mematuhi aturan sosial kemasyarakatan yang ada dan norma hukum yang berlaku. Keempat, tidak lagi mengikuti organisasi GAFATAR dan organisasi lainnya, serta tidak menyebarkan faham dan ajaran yang bertentangan dengan agama, ideology bangsa, yakni Pancasila dan UUD 1945.

Selain disuruh membaca syahadat lagi, sebelumnya, mereka juga mendapatkan bimbingan dan pembinaan tentang berbangsa dan bernegara dari Polres Malang, Kodim 0818 Malang, MUI dan Kementeria Agama.

Kompol Decky Hermansyah, Kepala Bagian Operasional (Kabag Ops ) Polres Malang meyakinkan kepada eks angota GAFATAR bahwa mereka akan diterima masyarakat jika sudah kembali ke kampung halamannya. “Kita harus berpikir positif dalam menghadapi sesuatu. Nanti, saudara semuanya, jika kembali ke masyarakat, yakinlah akan diterima kembali,” katanya.

Sedangkan Drs. Yoyok Wardoyo, MM Staf Ahli Bupati Bidang Hukum dan Poltik menceritakan tentang riwayat GAFATAR. “Proses terbentuknya dimulai dari pertikaian antara Ahmad Mushadeq dan Panji Gumilang. Keduanya merupakan anggota Negara Islam Indonesia KW9. Mushadeq kemudian mendirikan Al-Qiyadah al-Islamiyah, yang berubah menjadi Komunitas Millah Abraham. Pada tahun 2012 dibentuklah GAFATAR yang mengusung salah satu visi misinya, yakni di bidang sosial. Nah, dari sinilah banyak masyarakat yang tertarik karena kesosialannya,” jelasnya.*