25 April 2024

`

Pokdarwis Kampung Gribig Religi Lestarikan Tradisi Bubur Sapar

2 min read

MALANG, TABLOIDJAWATIMUR.COM – Kelompok Sadar Wisata Kampung Gribig Religi (Pokdarwis KGR) menggelar Mbabar Bubur Sapar, Kamis (16/09/2021) di kompleks cagar budaya & pesarean Ki Ageng Gribig, Kedungkandang, Kota Malang, Jawa Timur.

 

Kelompok Sadar Wisata Kampung Gribig Religi (Pokdarwis KGR) mengadakan Mbabar Bubur Sapar, Kamis (16/09/2021) di kompleks cagar budaya & pesarean Ki Ageng Gribig, Kedungkandang, Kota Malang, Jawa Timur.

 

AGUS Ahmad Saichu, Sekretaris KGR, mengatakan, Mbabar Bubur Safar ini adalah sebuah event promosi pariwisata yang berasal dari kampung tematik yang ada di Kota Malang. “Kampung Gribig Religi (KGR) salah satunya kampung wisata yang berbasis religi satu satunya. Kampung ini paling ramai  dikunjungi peziarah,” katanya.

Panitia menyiapkan bubur sapar (jenang gerundul) pada acara Mbabar Bubur Sapar yang diselenggarakan Kelompok Sadar Wisata Kampung Gribig Religi (Pokdarwis KGR), Kamis (16/09/2021) di kompleks cagar budaya & pesarean Ki Ageng Gribig, Kedungkandang, Kota Malang, Jawa Timur.

Hanya saja even kali ini tidak seramai tahun sebelumnya, karena masih pandemi COVID-19.

“Safar mengingatkan pada kita semua bahwa (bulan) sapar adalah bulan  kedua dalam kalender Jawa, bulan setelah bulan suro. Bubur sapar atau biasa kita menyebut jenang grendul berbentuk bundar-bundar. Itu mengandung makna ada kalanya siklus kehidupan manusia ada di atas, kadang di bawah. Jadi, seperti konsep bola (roda kehidupan),” terang Agus Ahmad Saichu.

Panitia memasak bubur sapar (jenang gerundul) pada acara Mbabar Bubur Sapar yang diselenggarakan Kelompok Sadar Wisata Kampung Gribig Religi (Pokdarwis KGR) , Kamis (16/09/2021) di kompleks cagar budaya & pesarean Ki Ageng Gribig, Kedungkandang, Kota Malang, Jawa Timur.

Menurut Agus, bahan untuk membuat bubur sapar adalah beras ketan. “Sebagaimana kita ketahui, ketan adalah lengket.  Ini mengandung makna bahwa perbedaan apa pun dalam hal bermasyarakat tetap lengket atau erat dalam bersosialisasi dengan  masyarakat yang lain. Sehingga ada harmonisasi dalam menjalani kehidupan ini,” jelasnya.

Secara terpisah, Ki Demang yang merupakan pengggas Kampung Budaya Polowijen menjelaskan, bulan Safar sebenarnya banyak diyakini sebagai bulan yang penuh bencana, bala, malapetaka, dan kesialan. “Mayoritas masyarakat Jawa hingga saat ini masih mempercayai bahwa bulan ini dipenuhi dengan hal-hal yang bersifat ketidakberuntungan,” ujarnya.

Masyarakat Jawa sendiri yang beraliran kejawen, menganggap hari Rabu Legi pada bulan Safar dianggap sebagai hari yang jelek sekali sehingga tidak boleh dibuat bepergian. “Hari Rabu Pahing yang dipercaya sebagai dina taliwangke yaitu hari yang sebaiknya disirik (dihindari),” ujarnya pria yang bernama  Isa Wahyudi,  Ketua Forkom Pokdarwis Kampung Tematik Kota Malang. (div/mat)