23 April 2024

`

Mahasiswa UB Ciptakan Alat Terapi Mastitis Sapi Perah

2 min read

MALANG, TABLOIDJAWATIMUR.COM – Lima mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) Malang, Jawa Timur dari berbagai disiplin ilmu, menciptakan alat terapi mastitis pada sapi perah menggunakan prinsip plasma non termal. Teknologi ini dinilai mampu melakukan dekontaminasi  mikroorganisme dengan memanfaatkan gas yang terionisasi dalam lucutan listrik antara dua elektroda tanpa menimbulkan kerusakan jaringan kulit.

 

Inilah mahasiswa UB menciptakan alat terapi mastitis pada sapi perah menggunakan prinsip plasma non termal.

 

KETUA Tim Mahasiswa UB, Farah Alhamidah (Fakultas Kedokteran Hewan 19) menjelaskan, teknologi ini terdiri dari sistem utama alat berupa pembangkit plasma non termal serta tampilan hasil monitoring kerja alat melalui LCD alat. Pada desain final yang telah dirancang, alat dilengkapi dengan saklar on-off untuk catu daya, timer sebagai pengatur durasi perlakuan sterilisasi, potensio sebagai pengatur tegangan input dari fly-back transformator, tabung gas argon dan voltmeter digital sebagai alat ukur tegangan input.

Alat terapi mastitis pada sapi perah.

“Teknologi ini sangat efektif dan aman diaplikasikan pada ternak perah,  karena suhunya yang tidak panas serta tidak menimbulkan kerusakan pada jaringan kulit. Diharapkan teknologi ini dapat menjadi metode alternatif solutif dekontaminasi bakteri Staphylococcus aureus penyebab mastitis sublikinis tanpa menggunakan antibiotic,” kata Farah Alhamidah, belum lama ini.

Farah menjelaskan, alat terapi mastitis pada sapi perah ini dibuat  karena produksi susu harian dengan kualitas yang tinggi, terus mengalami penurunan, mencapai 28,4% – 53%. Hal ini menyebabkan menurunnya penghasilan para peternak sebesar Rp 6.160.000 – Rp 11.620.000 per hari per KUD. “Permasalahan ini disebabkan oleh penyakit radang jaringan interna kelenjar atau yang dikenal dengan mastitis pada sapi perah yang dapat ditandai dengan perubahan hasil produksi susu,  baik secara kimia maupun fisik,” terangnya.

Penyakit mastitis ini pada umumnya disebabkan oleh bakteri Staphylococcus aureus. Infeksi Staphylococcus aureus tidak hanya merugikan peternak,  namun juga dapat menyebabkan penolakan susu oleh pengumpul karena cemaran bakterinya yang melebihi ambang batas SNI nomor 3141.1:2011,  maksimum sebesar 1×102 CFU/mL (BSN, 2011).

Menurut Farah, selama ini, cara yang digunakan dalam mengatasi permasalahan ini berupa pemberian antibiotik pada susu perah. Namun penggunaan antibiotik ini di sisi lain dapat menimbulkan efek negatif,  yaitu terbentuknya galur-galur mikroba yang resisten serta adanya residu antibiotik yang dapat merugikan peternak, industri pengolahan susu,  serta konsumen. Hal ini dikarenakan susu yang mengandung antibiotic tidak dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan produk fermentasi susu,  seperti yoghurt dan keju. Selain itu, bagi konsumen,  dapat menyebabkan beberapa reaksi alergi, keracunan hingga syok.

Dengan adanya permasalahan inilah akhirnya Farah Alhamidah (Fakultas Kedokteran Hewan’19), Elfahra Casanza (Fakultas Kedokteran Hewan’17), Delia Dwi Novrianti (Fakultas Teknik’18), Rofi Sanjaya (Fakultas Teknik’19) dan Irfan Nadhif (Fakultas Teknik’18)  berkolaborasi menciptakan alat terapi mastitis pada sapi perah menggunakan prinsip plasma non termal. (delia dwi novrianti (Fakultas Teknik UB/mat).