22 April 2024

`

Mahasiswa AS Belajar Bahasa dan Budaya Indonesia di UM

2 min read

MALANG, TABLOIDJAWATIMUR.COM – Universitas Negeri Malang (UM), Jawa Timur, menerima 23 mahasiswa dari berbagai negara dalam program Critical Languange Scholarsip (CLS) Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA), Senin (20/06/2022) di Fakultas Sastra. Program ini sempat vakum 2 tahun karena pandemi COVID-19.

 

Universitas Negeri Malang (UM), Jawa Timur, menerima 23 mahasiswa dari berbagai negara dalam program Critical Languange Scholarsip (CLS) Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA), Senin (20/06/2022) di Fakultas Sastra. Program ini sempat vakum 2 tahun karena pandemi COVID-19.

 

“BERAWAL dari kedekatan kita dengan negara- negara lain,  semisal Amerika Serikat, sehingga membuat  mereka ingin mengenal kebudayaan dan bahasa kita,” kata Dr. Gatut Susanto, MM, M.Pd,  Institute Director of CLS Indonesia, Rabu (22/06/2022) siang.

Mahasiswa asing dikenalkan dengan budaya Indonesia saat belajar bahasa dan budaya Indonesia di Universitas Negeri Malang (UM).

Gatut menambahkan, pembelajaran bahasa maupun budaya Indonesia ini cukup penting, sehingga  membuat Departemen Luar Negeri Amerika, membiayai mahasiswanya  untuk belajar bahasa Indonesia lewat program CLS.  “Dengan  adanya mahasiswa asing yang belajar bahasa Indonesia,  bisa membangun hubungan lebih baik antara Indonesia dan Amerika. Jadi semuanya (pembiayaan) ditanggung oleh Kementerian Luar Negeri Amerika melalui lembaga non profit yang menangani program ini,” jelasnya.

Gatut menjelaskan, Indonesia banyak mempunyai warga yang notabene mempunyai darah Indonesia tetapi berdomisili di luar negeri. Mereka ini melalui orang tuanya pasti ingin menyekolahkan anaknya  untuk belajar bahasa dan budaya indonesia.

Soal program CLS, Gatut juga menjelaskan,  selama di Malang, 23 mahasiswa Amerika Serikat tinggal di hotel.  “Ada yang berbeda dibandingan tahun sebelumnya. Kalau tahun kemarin mereka  tinggal di rumah masyarakat. Namun tahun ini,  untuk menjaga kesehatan,  kita inapkan di hotel selama 2 bulan,” ungkapnya.

Selain itu,  tahun lalu lebih berbicara soal ekonomi. Sekarang difokuskan pada sosial. Kemudian para mahasiswa asing ini  ditawarkan kelas pilihan. Ada kelas gamelan, kelas dangdut, kelas tari,  dan kelas batik.

Salah satu mahasiswa Amerika, Yosua Siagian,  mengatakan, dirinya sangat tertarik dengan bahasa Indonesia, karena ia  keturunan Indonesia, lahir di Indonesia, namun sejak kecil berdomisili di Amerika.  “Saya selalu penasaran dengan apa yang berbau Indonesia. Karena itu saya memutuskan untuk belajar  bahasa Indonesia dan mempelajari tentang budaya Indonesia melalui program ini,” ujarnya.  (div/mat)