22 April 2024

`

Gila! Komplotan Curanmor Ini Bisa Beli BPKB dan STNK Secara Online

3 min read

MALANG, TABLOIDJAWATIMUR.COM – Bagi masyarakat awam, membeli Buku Pemilik Kendaraan Bermotor (BPKB) dan Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) secara online, mungkin sesuatu yang tak masuk akal. Karena surat ini hanya diterbitkan Polri. Namun bagi para pelaku kejahatan, khususnya komplotan pencurian kendaraan bermotor (curanmor), hal ini biasa dilakukan.

 

Polresta Malang Kota merilis komplotan pencurian kendaraan bermotor (curanmor) dengan modus mengubah nomor rangka dan nomor mesin, di Mapolresta Malang, Selasa (06/09/2023) siang.

 

Kapolresta Malang Kota, Kombes Pol Budi Hermanto menanyai salah seorang tersangka komplotan pencurian kendaraan bermotor (curanmor) dengan modus mengubah nomor rangka dan nomor mesin, di Mapolresta Malang, Selasa (06/09/2023) siang.

NYATANYA, lima tersangka komplotan pencurian kendaraan bermotor (curanmor) dengan modus mengubah nomor rangka (noka) dan nomor mesin (nosin), yang diringkus jajaran Polsek Lowokwaru dari beberapa wilayah di Kota Malang, Jawa Timur, dalam waktu yang berbeda, biasa melakukan hal ini.

Dalam pengungkapan itu, petugas menangkap dua tersangka pencurian. Mereka itu, MS alias Ifan (38), residivis, warga Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang dan RD alias Doni (38), warga Kabupaten Blitar. Selanjutnya, tiga tersangka penadah, EC alias Yono (56), residivis, warga Kecamatan Turen, Kabupaten Malang, AKH alias Khoiron (38) dan AZ alias Anwar (35), warga Kecamatan Purwosari, Kabupaten Pasuruan.

Saat merilis para tersangka dan barang bukti di Mapolresta Malang, Selasa (06/09/2023) siang, Kapolresta Malang Kota, Kombes Pol Budi Hermanto, menjelaskan, sebelum beraksi (mencuri kendaraan bermotor), tersangka membeli Buku Pemilik Kendaraan Bermotor (BPKB) dan Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) secara online.

Salah seorang tersangka komplotan pencurian kendaraan bermotor (curanmor) dengan modus mengubah nomor rangka dan nomor mesin, menunjukkan kendaraan hasil kerjaannya saat Polresta Malang merilis para tersangka dan barang bukti, Selasa (06/09/2023) siang.

“Kemudian mereka mengganti nomor rangka dan nomor mesin kendaraan dengan peralatan yang dimiliki. Dengan begitu mereka bisa menjual kendaraan hasil curian tersebut tidak jauh dari harga pasar. Pembeli juga tidak curiga, karena nomor sesuai dengan surat-surat,” jelasnya.

Sementara itu, Kapolsek Lowokwaru, AKP Anton Widodo, menambahkan, para tersangka memiliki peran masing- masing. “Tersangka EC menghubungi AKF untuk meminta MS agar mencuri kendaraan yang sesuai dengan jenis BPKB yang dibeli secara daring tersebut,” jelasnya.

Setelah mendapatkan perintah tersebut, masih kata Anton, MS dan RD melakukan pencurian sesuai dengan pesanan. Kendaraan tersebut kemudian diserahkan kepada tersangka AKF. Kemudian AKF menghubungi EC untuk melakukan pembayaran kepada MS. “Peran AKF membongkar kunci kendaraan dan mengganti dengan yang baru. Sementara AZ mengubah nomor rangka dan nomor mesin kendaraan,” jelasnya.

Seperti diketahui, lima tersangka komplotan pencurian kendaraan bermotor (curanmor) dengan modus mengubah nomor rangka (noka) dan nomor mesin (nosin), diringkus jajaran Polsek Lowokwaru dari beberapa wilayah di Kota Malang, Jawa Timur, dalam waktu yang berbeda.

Menurut Kapolresta Malang Kota, Kombes Pol Budi Hermanto, perubahan nomor rangka dan nomor mesin ini dilakukan untuk memudahkan penjualan barang hasil kejahatan, layaknya kendaraan legal. “Nomor rangka dan nomor mesinnya disesuaikan dengan surat-surat yang dibeli di media sosial. Ada lima tersangka, terdiri dari dua orang pemetik (pelaku pencurian kendaraan bermotor) dan tiga orang penadah,” terangnya.

Dalam penangkapan tersebut, petugas mengamankan barang bukti berupa lima unit kendaraan bermotor roda dua. Salah satunya dalam proses pengubahan nomor rangka dan nomor mesin. Selain itu, disita 21 BPKB dan 35 STNK asli yang dibeli pelaku secara online.

Atas perbuatannya, tersangka MS dan RD dijerat dengan Pasal 363 ayat (2) KUHP dengan ancaman hukuman 9 tahun penjara. Sementara EC, AKF, dan AZ dijerat dengan Pasal 363 dan atau 480 Juncto Pasal 55 KUHP dengan ancaman minimal empat tahun. (aji/mat)