25 April 2024

`

Aneh, Ada Tembakau Rajangan di PT. Tri Surya Plastik

2 min read

MALANG, TABLOIDJAWATIMUR. COM – Proses pemadaman kebakaran di pabrik pengolahan limbah plastik, PT. Tri Surya Plastik, di Desa Ketindan, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Senin (11/06/2018), terkendala banyaknya material yang susah dipadamkan. Salah satunya plastik dan tembakau rajangan.

 

Karyawan pabrik plastik PT.Tri Surya Plastik, Lawang, Kabupaten Malang, Jawa Timur berada di lokasi bekaran bersama petugas pemadam kebakaran.
Kepala UPT. PPBK Kota Malang, Jose Manuel Belo, saat ditemui di lapangan sewaktu terjadi kebakaran di PT.Tri Surya Plastik, Lawang, Kabupaten Malang, Jawa Timur.

HAL INI disampaikan Kepala Unit Pelaksana Teknis Pencegahan dan Penanggulanggan Bahaya Kebakaran Kota Malang, Jose Manuel Belo, Senin (11/06/2018) di lokasi kejadian.

Ditemui di sela-sela upaya melakukan pemadaman, Jose Manuel Belo menyampaikan, dalam kebakaran di tempat usaha milik H.Siswanto ini, dia hanya sebatas mem-back up upaya pemadaman.

“Kami, dari petugas PPBK Malang Raya, baik dari Kota Malang, Kabupaten Malang, dan Batu, selalu melakukan koordinasi jika terjadi kebakaran dalam skala besar. Seperti saat ini, kami dari kota, melakukan back up,” terang Belo didampingi Endro Lestari, Komandan Regu PPBK Kabupaten Malang.

Untuk memadamkan api yang melahap gudang dan pengolahan biji plastik PT.Tri Surya Plastik, PPBK gabungan harus menurunkan 8 unit mobil damkar, dan mengerahkan 45 personil.

Kepala UPT. PPBK Kota Malang, Jose Manuel Belo bersama Endro Lestari, Komandan Regu PPBK Kabupaten Malang.

Banyaknya material yang susah dipadamkan membuat api belum bisa dipadamkam. Hingga pukul 08.30 WIB, api masih membara. Anehnya di PT.Tri Surya Plastik yang mengolah biji plastik, juga ditemukan tumpukan tembakau rajangan. “Butuh proses dan waktu cukup lama untuk memadamkan api, karena banyak material yang mudah terbakar,  seperti plastik dan tembakau,”jelas Belo.

Selain banyaknya plastik dan tembakau rajangan, sarana untuk pemadaman juga kurang memadai. “Harusnya memakai mobil tangga, seperti yang dimiliki Pemerintah Kota Batu. Karena, jika melakukan pembasahan dari bawah, ditakutkan tiang penyangga atap akan runtuh. Kita kan juga harus memikirkan keselamatan petugas yang di lapangan,” papar Belo.

Melihat pengalaman sebelumnya, kebakaran di tempat yang sama pada tanggal 8 Februari 2017, menurut Belo, perlu waktu hingga seminggu lebih untuk memadamkan api. “Melihat material yang sama dengan kejadian tahun lalu, belum bisa dipastikan sampai berapa hari untuk pemadaman total. Jika dilihat dari permukaan, api memang nampak padam. Namun di dalamnya masih terus membara,” ungkap Belo.

Ironisnya, dalam upaya pemadaman yang dilakukan tim PPBK gabungan, sejumlah petugas keamanan pabrik berambut cepak justru menghalang-halangi petugas yang memadamkan api. Sempat terjadi adu mulut antara petugas keamanan pabrik dan tim damkar yang sedang melakukan pembasahan pada material yang terbakar. Para pria berambut cepak, melarang penyemprotan dan menutupi sejumlah material menggunakan seng.

“Sempat terjadi beda pendapat. Tapi saya tegaskan, di sini kami melakukan tugas kami, dan kami tidak ingin ada upaya penghalangan. Sudah kami selesaikan hal tersebut,” pungkas Belo. (diy)