Tiga Pilar Ingatkan Bahaya Radikalisme

MALANG, TABLOIDJAWATIMUR. COM – Pelaksana Tugas Walikota Malang, Wahid Wahyudi berpesan, agar masyarakat lebih waspada terhadap kondisi yang terjadi akhir- akhir ini,  termasuk tindakan radikalisme. Sebisa mungkin memotong rantai radikalisme. Karena teroris juga melakukan rekrutment.

 

Tiga pilar Kota Malang, memberikan gambaran kondisi dan langkah pengamanan.

“KOTA MALANG sudah kondusif. Harus dijaga dan dipertahankan. Perlu terus meningkatkan kewaspadaan. Mengingat peristiwa yang akhir- akhir ini terjadi, termasuk tindakan radikalisme. Sebisa mungkin memotong rantai radikalisme. Karena teroris juga melakukan rekrutment,” katanya di hadapan ratusan pejabat, RT/ RW, para Muspika, Kota Malang, Jum’at (08/06/2018).

Ia melanjutkan, Kota Malang juga sebagai miniatur Indonesia, mengingat di Malang ada warga dari semua daerah di Indonesia. Dengan adanya 62 perguruan tinggi, telah mendatangkan mahasiswa dari berbagai daerah, dengan beragam budaya, tentunya mendapat perhatian banyak pihak.

Kapolres Malang Kota, AKBP Asfuri menyatakan,  dalam tugasnya, Polisi memang tidak bisa sendiri. Namun membutuhkan keterlibatan banyak pihak,  termasuk masyarakat.

“Kami membentuk Polisi RW. Gunanya, untuk memudahkan koordinasi dengan masyarakat. Adanya Polisi di setiap RW, bisa langsung berkoordiansi karena bisa membentuk group WA. Saling bertukar informasi, sehingga cepat tersebar,  khususnya di lokasi dimaksud,” tuturnya.

Kapolresta menghimbau, koordinasi dengan pemangkau wilayah RT/RW sangat penting. Salah satu antisipasi dan pengawasan dini kondisi setempat, bisa melalui RT/RW. Perlu dilaksanakan pengamanan siskamling, dan perlunya warga lapor saat tinggal 1 X 24 jam. Perlunya pengawasan ke pendatang, yang sewa rumah dan warga yang kurang bersosialisasi.

Sementara itu, Komandan Kodim 0833 Kota Malang, Let Kol Inf Nurul Yakin menjelaskan,  posisi TNI adalah peran militer selain perang. “Kami membantu tugas Polri, membantu pemberdayaan wilayah pertahanan. Paham radikal, yang beberapa waktu kemarin terjadi di Surabaya, tidak terjadi serta merta, namun melalui proses dan waktu pemahaman. Karena itu, sebagai salah satu unsur ketahanan, bisa saling menginformasikan, kondisi pertahanan lingkungan,” terangnya. (ide)