Sampah Pasar Lawang, Warganet Kirim Surat Terbuka untuk Presiden

MALANG, TABLOIDJAWATIMUR. COM – Gara-gara sampah yang menumpuk di Pasar Lawang, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang, warganet dengan akun Facebook, Muslimah, memposting surat terbuka kepada Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, Senin (11/02/2019).

 

Tumpukan sampah di Pasar Lawang yang dikeluhkan warga (ist).

 

Camat Lawang, Eko Wahyu Widodo. (ist)

DALAM surat terbuka kepada Presiden Jokowi yang diunggah pukul 08.30 WIB, Senin (11/02/2019) di grup Facebook Komunitas Peduli Malang, akun FB, Muslimah mengeluhkan banyaknya sampah yang menumpuk di Pasar Lawang. Melengkapi surat terbuka tersebut, akun FB Muslimah juga mengunggah, tumpukan sampah yang ada di Pasar Lawang.

Tidak berselang lama, 30 menit kemudian di grup yang sama akun FB, Yohanes Moeljadi Pranata dan Oyi Sam, juga memposting hal yang serupa. Sontak para netizen pun menanggapi dengan keluhan yang sama dalam komentarnya.

Saat dikonfirmasi awak media, Camat Lawang, Eko Wahyu Widodo, tidak mempermasalahkan viralnya sampah di Pasar Lawang, sehingga salah seorang netizen sampai membuat surat terbuka ke Presiden Jokowi. “Tidak masalah, kalau surat terbuka itu, sekarang jaman keterbukaan. Namun kalau permasalahan sampah di Pasar Lawang, saat ini sudah dilakukan penanganan, sudah dibersihkan kok,” terang Eko.

Dirinya pun tidak menampik, jika kemarin memang terjadi penumpukan sampah di Pasar Lawang. “Kebetulan kemarin kondisi hujan, dan hari libur sehinga sampah akhirnya menumpuk. Biasanya setiap hari sampah di Pasar Lawang diambil, permasalahannya saat ini pertumbuhan jumlah sampah semakin meninggi, seriring dengan jumlah penduduk yang semakin bertambah,” papar Camat Lawang.

Secara terpisah menurut Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Malang, Renung Rubiartadi, mengungkapkan bahwa menumpuknya sampah di Pasar Lawang, disebabkan adanya kerusakan sarana dan prasarana yang ada.

“Memang kemarin sempat menumpuk, namun saat ini sudah ditanggulanggi oleh UPT (Unit Pelaksana Teknis) disana, mediasi dengan ibu-ibu yang disana (Pasar Lawang-red) sudah dilakukan. Penumpukan sampah terjadi karena ada sarana kami yang rusak,” jelas Renung.

“Permasalahannya karena ada prasarana kami, kontainer, yang rusak, dan karena ini merupakan tahun anggaran awal, kami belum bisa melakukan perbaikan,” imbuh Kabid PSB3 DLH Kabupaten Malang.

Dipasar Lawang sebenarnya ada dua kontainer sampah milik DLH, dan untuk pengambilan sampah di Pasar Lawang, sehari dilakukan tiga kali. “Sebenarnya jika dalam kondisi normal untuk Pasar Lawang tidak ada masalahnya, hanya karena memang keterbasan anggaran dan sarana maupun prasarana, terjadi penumpukan,” alumni ITS Surabaya.

Lebih lanjut dia mengungkapkan, sebenarnya masalah sampah adalah masalah klasik. Disatu sisi memang menjadi tanggung DLH untuk mengatasi persoalan sampah. Namun untuk penangganannya masyarakat juga perlu diedukasi, bagaimana memperlakukan sampah dengan bijak, tidak asal membuang secara sembarangan. “Dengan segala keterbatasan yang kami miliki, kami sudah berusaha maksimal menangani sampah, namun jika perilaku masyarakat tidak berubah, maunya hanya membuang sampah, tanpa memikirkan dampaknya, usaha kita apa bisa maksimal? Perlu keterlibatan semua pihak, tidak hanya DLH, namun juga instansi lain dan masyarakat sendiri,” pungkas Renung. (diy)