Pejabat Ini Tak Jijik Ublek-ublek Kotoran Sapi Dengan Tangan

Para pekerja di IRRC Mantung, Pujon mengolah kotoran sapi menjadi biogas.

MALANG, TABLOIDJAWATIMUR. COM – Persoalan sampah hampir tak ada hentinya. Produksi  bertambah, namun lahan untuk pembuangan menyempit. Di Kabupaten Malang, Jawa Timur, jumlah produksi sampah sekitar 1.200 kg per hari. Perlu langkah strategis untuk mengatasinya sekaligus butuh orang yang serius menanganinya.

 

DARI PULUHAN ribu pegawai di lingkungan Pemerintah Kabupaten Malang, sepertinya Ir. Renung Rubiataji adalah salah seorang yang punya kepedulian sangat luar biasa dalam hal pengelolaan sampah. Komitmennya dalam hal pengelolaan sampah, tak perlu diragukan lagi. Bahkan, dia beberapa kali dikirim ke luar negeri untuk belajar mengelola sampah.

Ir. Renung Rubiartadi.

Menurutnya, jumlah produksi sampah di Kabupaten Malang sekitar 1.200 kg per hari, dengan asumsi jumlah penduduk 3 juta jiwa, dengan produksi sampah 0,4 kg/orang/hari. “Cukup banyak juga sampah yang dihasilkan,” katanya memulai pembicaraan, belum lama ini di kantornya.

Untuk mengatasi persoalan sampah, Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) pada kantor Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Malang ini, pada tahun 2009, dikirim ke Perancis.

Bersama koleganya, Ir. Dwi Siswahyudi, MT, yang sekarang menjabat Kepala Bagian Kesra Kabupaten Malang, dia mengikuti audisi di Surabaya bersama utusan kabupaten/kota se Jawa Timur. Mereka disuruh memaparkan kebijakan dan implementasi pengelolaan sampah di daerahnya masing-masing. “Akhirnya, saya dan Pak Dwi, bersama 6 orang lainnya dari Sidoarjo, Mojokerto, Kota Madiun, dan Surabaya, diberangkatkan ke Prancis,” jelasnya.

Lalu, pada tahun 2015, dia dikirim ke Dhaka, Banglades, belajar manajemen pengelolaan sampah organik. “Kebetulan Pemerintah Kabupaten  Malang bersama Kota Jambi,  bekerjasma dengan  UNSCAP (United National Sosial Economic Asia Pasipic) —sebuah lembaga di bawah naungan PBB yang  bergerak di bidang sosial ekonomi untuk  membantu keluarga miskin di negara-negara Asia Pasipik— telah membangun instlasi reaktor untuk mengolah kotoran sapi (kletong) di kawasan Pasar Sayur Mantung, Kecamatan Pujon. Nah, saya dikirim ke sana dalam rangka penganan program ini,” kata Renung.

Renung menjelaskan, program ini tak lepas dari banyaknya populasi sapi di Kabupaten Malang, lebih dari 700 ribu ekor. “Tapi di sisi lain, kita dihadapkan pada persoalan lingkungan. Oleh sebagian besar peternak, kotorannya dibuang ke sungai, sehingga menimbulkan pencemaran. Memang ada juga peternak yang mengumpulkannya  dan dibuat pupuk kandang, tapi itu masih sedikit. Makanya, kami berupaya untuk mengatasi persoalan lingkungan ini,” jelasnya.

Salah satu cara yang dilakukan untuk mengatasi masalah kotoran sapi ini adalah menjadikan kotoran sapi itu sebagai energi positip yang bermanfaat bagi masyarakat. “Caranya, kotoran sapi yang ada di peternak, kami ambil, lalu kami masukkan ke dalam reaktor, kemudian diolah menjadi gas metan. Nah, gas metan ini bisa menghasilkan energi listrik. Jadi, tak jarang saya dan teman-teman di Mantung ublek-ublek keletong (kotoran sapi) dengan tangan,” terangnya sambil tertawa.

Selain ke Bangladesh,  pada tahun 2016, Renung juga pernah dikirim ke Universitas Chiang Mai, Thailand  dalam rangka  kursus manajemen pengelolaan sampah yang pesertanya dari Asia Paciifik. Di sini, dia belajar biogas, belajar pembuatan kompos dari cacing.

Lalu pada 2017,  dia dikirim lagi ke Bangkok, Thailand untuk presentasi pengelolaan IRRC (Integrated Resource Recovery Center) di Pasar Mantung, Pujon yang diikuti utusan se Asia Pacifik.  “Tahun ini, sebetulnya akan berangkat ke Denmark. Tapi ditunda karena ada Virus Corona,” imbuhnya.

Menurut Renung, memang butuh kesungguhan dan kerjasama semua pihak untuk mengatasi masalah sampah. (mat)