Mengukir Kayu Jati Menjadi Rupiah

Pak Atim dengan karyanya.

DENGAN usahanya, dia mampu membiayai kebutuhan keluarganya, termasuk menyekolahkan ketiga anaknya. Namun apa yang diraihnya sekarang tidak langsung didapat begitu saja. Butuh perjuangan yang tidak ringan. “Sejatinya saya tidak punya keahlian ukir,” aku pria asli dari Desa Troso, Kecamatan Pacangan, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah ini. “Awalnya, saya ikut kerja orang lain,” imbuhnya.

Cukup lama juga bapak tiga anak ini belajar ukir di sebuah perusahaan mebel di kampung halamannya sana. “Saya sempat tiga kali pindah dari satu perusahaan ke perusahaan mebel yang lain. Tujuannya, ingin belajar cara membuat mebel ukir yang baik. Sebab, baik kakek, orang tua atau saudara-saudara saya, tidak satu pun yang punya keahlian ukir mebel,” terangnya.

Namun, berkat ketekunan dan kesungguhannya dalam bekerja dan belajar, akhirnya dia berhasil menjadi tukang ukir mebel yang handal. “Setelah saya merasa mampu dan bisa menjadi tukang ukir mebel, akhirnya saya hijrah ke Jakarta sekitar tahun 1979, bekerja di sebuah perusahaan mebel. Tidak lama, hanya sekitar 3 atau 4 bulan dengan upah sekitar Rp 700 per hari,” katanya.

Setelah itu, Atim pindah ke Surabaya. Di Kota Pahlawan ini dia kembali bekerja di perusahaan yang sama selama kurang lebih 2 tahun. Lalu pindah ke Singosari, Malang hingga sekarang. “Saya masuk Singosari tahun 1980. Waktu itu saya kerja di perusahaan mebel di depan Polwil Malang (sekarang Satpas, red) dengan upah Rp 3500 sehari,” jelasnya.

Setelah cukup lama bekerja ikut orang lain, akhirnya Atim memutuskan untuk membuka usaha sendiri hingga sekarang. Berbagai jenis mebel ia kerjakan, mulai meja, kursi, lemari, tempat tidur, pintu, jendela, kusen, bupet, meja makan, meja rias, kaca rias, hingga kaligrafi yang semuanya terbuat dari kayu jati pilihan.

Tidak hanya itu. Dia juga melayani pembuatan sketsel yang juga terbuat dari kayu jati ukir. “Ini, lagi menggambar sketsel pesanan. Ukurannya panjang 2,5 meter, tinggi 2 meter. Harganya sekitar Rp 10 juta. Agak mahal karena ukir-ukirannya sangat halus dan detail,” jelasnya.

Soal harga, memang sangat tergantung pada jenis mebel yang dipesan. Kursi panjang misalnya, dijual dengan harga kisaran Rp 2 juta per unit. Lemari sekitar Rp 3 juta per unit. “Alhamdulillah, selama ini masih ada saja yang pesan mebel ke saya,” aku Atim.*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *