Kabupaten Malang Pikat Pengunjung Tong Tong Fair di Den Haag

MALANG, TABLOIDJAWATIMUR. COM – Kehadiran delegasi Kabupaten Malang, Jawa Timur —-diwakili Dinas Perindustrian dan Perdagangan serta Dinas Pariwisata dan Kebudayaan— pada pameran produk unggulan Tong Tong Fair (TTF) di Malieveld, Den Haag, Belanda, pada 24 Mei – 3 Juni 2018 lalu, disambut antusias para pengunjung dan panitia.

 

Delegasi Kabupaten Malang saat mengikuti Tong Tong Fair di Den Haag, Belanda.

 

Pengunjung asal Belanda diterima delegasi Kabupaten Malang saat mengunjungi stand Kabupaten Malang.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Malang, Dra Pantjaningsih SR.

KEPALA DINAS Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Malang, Dra Pantjaningsih SR menjelaskan, Tong-Tong Fair yang digelar selama 10 hari tersebut merupakan festival seni budaya dan kuliner yang bernuasa archipelago. Di dalamnya terdapat 250 presentasi, workshop, musik, dan penampilan seni budaya tradisional.

Pada pameran tersebut, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Malang, Jawa Timur menampilkan sejumlah produk unggulan yang diproduksi masyarakat Kabupaten Malang. Di antaranya, batik, makanan olahan berupa keripik nangka dan sebagainya. Dan, semua produk tersebut sangat diterima para pengunjung.

Stand Kabupaten Malang saat mengikuti Tong Tong Fair di Den Haag.

“Alhamdulillah, kehadiran delegasi Kabupaten Malang pada Tong-Tong Fair tersebut sangat membanggakan. Delegasi seni budaya Kabupaten Malang yang dibawakan Duta Wisata Joko Roro 2018, ditempatkan pada saat acara pembukaan (pimetime). Selanjutnya, mereka melakukan pentas seni (dance performance) dan workshop tari. Acara ini mendapat sambutan hangat para pengunjung,” kata Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Malang, Dra Pantjaningsih SR, Jumat (13/07/2018).

Pengunjung saat berada di lingkungan stand Kabupaten Malang.

Pada acara yang dihadiri sekitar 90.000 pengunjung itu, stand (booth) Kabupaten Malang mendapat perhatian serius dari para pengunjung. “Mereka sangat terpikat dengan aneka produk yang kita pamerkan. Mereka juga mendapat penjelasan mengenal potensi wisata di Kabupaten Malang, sehingga berkeinginan untuk datang dan menikmati wisata di Kabupaten Malang,” terangnya.

Mantan Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Malang ini menambahkan, tidak hanya para pengunjung pameran yang meninjau stand Kabupaten Malang. “Duta Besar Republik Indonesia untuk Belanda juga terpikat dengan stand kita. Saat berkunjung ke stand Kabupaten Malang, beliau menyambut baik dan sangat terkesan dengan potensi Kabupaten Malang,” ujarnya.

Pada acara tersebut, juga diadakan pertemuan dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Belanda yang dalam hal ini diwakili Wakil Duta Besar Republik Indonesia di Belanda.

Dalam pertemuan tersebut, dibahas beberapa agenda. Pertama, terkait penyelenggaraan Tong-Tong Fair, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Belanda sangat berterimakasih dan mengapresiasi atas partisipasi delegasi dari Kabupaten Malang yang salah satunya menampilkan seni budaya dan workshops tari yang dibawakan Duta Wisata Joko Roro 2018.

“Beliau berharap hal ini dapat menjadi awal yang baik untuk keberlanjutan atau suistainable partisipasi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Malang di Festival Tong-Tong Fair selanjutnya. Seni budaya tradisional Indonesia sangat diharapkan tampil secara langsung atau live di acara tersebut, karena sebagian besar pengunjung sangat merindukan seni tradisional Indonesia,” kata Pantja.

Kedua, Smart Embassy. Dalam rangka untuk mendukung peningkatan eksport ke Belanda khususnya, dan semua perwakilan Indonesia di luar negeri pada umumnya, ke depan, setiap perwakilan Kedutaan Besar Republik Indonesia di seluruh dunia akan membentuk program Smart Embassy, di mana seluruh perwakilan Kedutaan Besar Republik Indonesia membuat suatu aplikasi yang dapat menjelaskan segala hal tentang Indonesia, mulai potensi ekspor, potensi kepariwisataan, UKM, handycraft dan lain-lain.

Di samping itu, di setiap kantor KBRI akan punya ruang pamer atau display untuk barang-barang potensi ekspor, kepariwisataan, sehingga tamu akan langsung mengetahui sampai detail terkait potensi yang dimaksud.

Ketiga, Sister City. Program kerjasama Sister City, terutama di Belanda, masih belum dapat dilaksanakan, karena setiap Pemerintah Belanda mengevaluasi progam Sister City, terutama dengan beberapa pemerintah daerah di Indonesia, dinilai masuh belum efektif dan masih terkesan tidak serius. Progam yang akan dilaksanakan belum ditindaklanjuti. Sebagian besar tidak ada progress yang menguntungkan, terutama bagi Pemerintah Belanda. (mat)