Ekspor Kabupaten Malang Meningkat, Kopi Jadi Primadona

MALANG, TABLOID JAWA TIMUR. COM – Kerja keras yang dilakukan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Malang, Jawa Timur untuk mendongkrak nilai ekspor, tidak sia-sia. Nyatanya, tahun 2017, nilai ekspor Kabupaten Malang naik 2.91 % dibandingkan 2016. Kopi menjadi komiditi yang paling disukai konsumen luar negeri.

 

Bupati Malang Dr. H. Rendra Kresna menunjukkan biji kopi yang sudah siap panen.

KEPALA Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Malang, Pantjaningsih SR, menjelaskan, realisasi nilai ekspor untuk semua komoditi tahun 2017 sebesar US$ 388.462.850,00. Sedangkan tahun 2016 hanya US$ 377.153.816,14. “Ada kenaikan sebesar US$ 11.309.033,86 atau 2,91 %,” katanya, Sabtu (19/05/2018).

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Malang, Jawa Timur, Pantjaningsih SR.

Selain dari sisi nilai, volume ekspor kabupaten terluas kedua di Jawa Timur setelah Banyuwangi ini juga ikut terdongkrak. Menurut mantan Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) yang sukses membawa Kabupaten Malang menjadi kabupaten layak anak tingkat nasional tahun 2017 ini, volume ekspor tahun 2017 sebesar 277.663.538,84 kg. Sedangkan tahun 2016 sebesar 275.932.161,49 kg. “Ada kenaikan volume ekspor sebesar 1.731.377,35 kg atau  0,62 %,” terangnya.

Petani kopi memetik kopi di perkebunan kopi milik rakyat di Desa Sumberdem, Kecamatan Wonosari.
Petani kopi memetik kopi di perkebunan kopi milik rakyat di Desa Sumberdem, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Pantja menambahkan, ada sepuluh besar komoditas yang mendominasi ekspor Kabupaten Malang 2017. Meliputi, kopi, rokok, audio dan TV cabinet, tekstil, kayu moulding, jely alga, kulit, botol kemasan, mebelair dan kayu. “Dari sekian banyak komiditas ekspor, kopi memang yang paling diminati luar negeri,” katanya.

Menurut catatan wartawan tabloidjawatimur.com, potensi kopi Kabupaten Malang, memang sangat luar biasa. Salah satu sentranya ada di Kecamatan Dampit. Kualitasnya pun nomor satu di dunia, sehingga kopi Dampit paling diburu pasar luar negeri. Ada 38 negara yang menjadi langganan. Karena itu tak heran jika kopi membawa Kecamatan Dampit menjadi juara pertama Lomba Sinergitas Kecamatan tingkat Provinsi Jawa Timur 2017.

Bupati Malang Dr. H. Rendra Kresna memetik kopi di perkebunan kopi milik rakyat di Desa Sumberdem, Kecamatan Wonosari.
Bupati Malang Dr. H. Rendra Kresna memetik kopi di perkebunan kopi milik rakyat di Desa Sumberdem, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Ada beberapa eksportir kopi dari Kabupaten Malang. Di antaranya, CV. Kharisma Nusantara Jl. Raya Sumber Kembar, Dampit. PT. Asal Jaya Jl. Semeru Selatan, Dampit. PT. Gemilang Sentosa Permai Jl. Raya Singosari, CV. Dwi Jaya Jl. Pajang Dampit, dan PT. Anugerah Jl. Sumber Kembar Dampit.

Bupati Malang, Dr. H. Rendra Kresna mengatakan, kopi asal Dampit memang sudah dikenal seluruh penjuru dunia. “Sejak dahulu kopi Dampit sudah dikenal para penikmat kopi di dunia. Saya mengajak para petani kopi untuk dapat berinovasi guna meningkatkan nilai komoditas kopi yang ada melalui sajian, olahan maupun kemasan even berbasis kopi,” katanya.

Ketua Partai Nasdem Jawa Timur ini menambahkan, kopi Indonesia adalah salah satu kopi terbaik di dunia. Berdasarkan topografi Kabupaten Malang, jenis tanaman kopi yang lebih sesuai adalah Robusta. Luas areal kopi Robusta di “Bumi Kanjuruhan” ini mencapai 11.928 Ha, baik tanaman menghasilkan, tanaman belum menghasilkan, maupun tanaman rusak. Sedangkan luas areal kopi Arabika  1.020 Ha.

“Melihat kecenderungan permintaan pasar dunia terhadap komoditas kopi yang terus meningkat, Pemerintah Kabupaten Malang terus mendukung perluasan komoditas kopi di Kabupaten Malang,” terang bupati.

Di tempat terpisah, Thomas, salah satu manajer CV Asal Jaya, eksportir kopi di Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang menjelaskan, pada tahun 2017 lalu, volume ekspor kopi mereka sebesar 43 ribu ton. Turun 3 ton dibandingkan 2016 yang mencapai 46 ribu ton. Padahal kebutuhan pasar luar negeri sangat besar, jutaan ton per tahun. Sedangkan pasokan dari Indonesia hanya sekitar 400 ton per tahun. Sementara produksi dari Kabupaten Malang saja, hanya 18 ton setahun.

“Mengapa turun? Karena Eropa beralih ke Vietnam dan Brazil. Sebab, di dua negara ini, stok kopi selalu surplus. Sedangkan kita tidak stabil. Kadang naik, kadang turun. Namun demikian, dari sisi nilai ekspor, kami naik. Jika pada 2016 nilai ekspor kurang dari US$ 100 juta, tahun 2017 naik menjadi US$ 100 juta atau sekitar Rp 1,3 triliun,” kata Thomas.

Rendahnya produksi kopi Indonesia, khususnya di Kabupaten Malang, membuat CV Asal Jaya ikut prihatin. Padahal dari sisi kualitas, sangat bagus. Untuk mendongkrak produksi, CV Asal Jaya melakukan  kerja sama dengan Kementerian Desa.

“Dalam hal ini kami melakukan pembinaan kepada para petani kopi. Pembinaan itu dalam bentuk  penggantian bibit unggul agar produksi kopi 4 tahun ke depan 1 ha bisa mencapai 3 ton. Kalau sekarang kan masih 8 kwintal per hektar,” jelas Thomas.

Menurut Thomas, pembinaan ini sudah dimulai dengan menggandeng LSM  dari luar negeri , di lahan kelompok tani di Dampit seluas 3.000 m2. “Pembinaan sudah jalan, bahkan tahun 2019 sudah  panen. Ini kami jadikan sebagai lahan percontohan,” katanya.

Selain memberikan pembinaan, CV Asal Jaya juga memberikan bantuan kambing etawa kepada para petani kopi tersebut. Kotorannya dipakai pupuk kandang sehingga bisa mengurangi pupuk subsidi pemerintah. Selain itu juga  bisa menghasilkan susu etawa. Sedangkan untuk tanaman sela, ditanami jahe. Dan di kebunnya sudah ada ternak lebah untuk menghasilkan madu. Sementara tanaman penaungnya  ada pisang.

“Sehingga, belum panen saja, income petani  yang kami bina ini sudah 200 %. Apalagi kalau sudah panen kopi, pendapatannya bisa mencapai 600 %.  Padahal, kambingnya itu kan pasti beranak pinak, sehingga akan menambah penghasilan petani. Nah, sekarang kami tinggal menunggu  pemerintah saja. Kalau program yang kami jalankan ini bisa diterapkan secara nasional, sudah berapa banyak kenaikan produlsi kopi. Karena, dengan bibit unggulan, produksi bisa naik dari 8 kwintal per hektar menjadi 3 ton per hektar,” terang Thomas.

Sementara itu, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Malang  juga mencatat, realisasi nilai impor ikut naik pada 2017. Jika pada tahun 2016 hanya US$ 93.323.638,27, pada tahun 2017 naik menjadi US$ 94.392.903,97. “Ada kenaikan sebesar US$ 1.069.265,7 atau 1,13 %,” kata Pantjaningsih SR.

“Volume impor juga naik. Jika pada tahun 2016  sebesar 38.253.792,84 kg, pada tahun 2017 naik menjadi 39.530.638,35 kg. Ada kenaikan sebesar 1.276.845,51 kg atau 3,23 %,” kata Pantjaningsih.

Menurut perempuan yang pernah menjadi camat ini, ada sepuluh besar komditi impor Kabupaten Malang selama 2017. Meliputi, sparepart mesin industri, penolong pengemasan bahan baku tekstil, partikel untuk proses produksi kulit, bahan penolong pembuatan kaca, bahan penolong mebel, bahan penolong rokok, bahan penolong kampas, karung goni, dan bahan kimia untuk penyamak kulit. (mat)