Dimangsa Macan Tutul, 12 Rusa Mati, 2 Ekor Hilang

Polisi melihat rusa yang mat di di penangkaran Taman Wisata Coban Jahe, Desa Pandansari Lor, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang, Jawa Timur.

MALANG, TABLOIDJAWATIMUR. COM – Sebanyak dua belas rusa tutul (Axis axis) di penangkaran Taman Wisata Coban Jahe, Desa Pandansari Lor, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang, Jawa Timur, ditemukan mati dengan luka di leher, Minggu (20/01/2019).

 

KAPOLSEK Jabung, AKP.Samsul Arifin menuturkan,  kejadian yang pertama kali terjadi di penangkaran rusa Taman Wisata Coban Jahe, bermula saat Khusnul Ma’arif (33), petugas penangkaran hendak memberi pakan rusa. Saat itu, dari 14 ekor rusa tutul yang ditangkar, 12 di antaranya ditemukan mati. “Jadi ada 12 ekor yang mati. Rata-rata ada luka di leher. Sedangkan 2 ekor lainnya hilang,”terang Kapolsek Jabung, Senin (21/01/2019).

Menurut Samsul, berdasarkan hasil pemeriksaan dokter hewan Arifin Wibisono, menduga kematian hewan memamah biak tersebut diakibatkan serangan binatang buas. “Dugaan sementara, akibat serangan binatang pemangsa atau karnivora yang lebih dari satu ekor. Indikasinya, ada luka bekas taring. Namun belum bisa dipastikan hewan apa yang menyerang rusa tutul ini,”ungkapnya.

Warga melihat rusa yang mati.

Apakah ada rusa yang dikoyak atau rusak tubuhnya?  “Tidak ada. Luka hanya seperti gigitan taring di leher. Matinya sepertinya lebih karena kehabisan darah,” tegas Kapolsek Jabung.

Sementara itu, menurut Ketua Profauna Indonesia, Rosek Nursahid, letak penangkaran rusa di Taman Wisata Coban Jahe memang terletak di kawasan hutan Bromo Tengger Semeru (BTS). Dugaan kuat,  yang menyerang adalah macan tutul (Panthera pardus melas). “Mengapa dugaan kami macan tutul? Karena luka bekas gigitannya di leher dan tengkuk. Itu adalah ciri khas serangan harimau. Kalau anjing,  sasaran gigitan biasanya perut,”jelas Ketua Profauna Indonesia.

“Apalagi beberapa waktu lalu, keberadaan macan tutul sempat terdeteksi di kawasan BTS yang memang merupakan habitatnya,” imbuh Rosek.

Rusa tutul sejatinya bukanlah hewan asli Indonesia. Karena kecantikannya, hewan asal India dan Srilanka ini didatangkan ke Indonesia tahun 1814 oleh Gurbenur Jenderal Inggris, Thomas Stanford Raffles, untuk kemudian dilepasliarkan di halaman Istana Bogor. Karena mudah berkembang biak, satwa herbivora ini kemudian ditangkarkan ke berbagai daerah, salah satunya di penangkaran Taman Wisata Coban Jahe, Jabung.  (ide)