Ukir Bongkot Pring Tembus Pasar Dunia

Pekerja sedang mengukir batang bambu.

Selama ini, banyak orang yang memandang sebelah mata
terhadap akar bambu. Bahkan, batang bambu yang tertanam di tanah ini, lebih banyak dibuang atau dibakar. Umumnya masyarakat hanya mengambil manfaat dari batangnya untuk berbagai keperluan, seperti tiang umbul-umbul, usuk dan reng rumah atau untuk gagang sapu. Tapi di tangan Jumarno Joko Pratomo, limbah bambu ini bernilai puluhan juta rupiah.

Ya, di tangan lelaki asli Solo yang sudah masuk ke Ma-lang sejak 1994 ini, bong-kot pring yang biasanya dibuang begitu saja tersebut, punya nilai seni yang luar biasa dan bisa menghasilkan uang yang tidak sedikit.
“Ada yang saya bentuk patung manusia, itik dan sebagainya. Tapi se-mua teksturnya primitif. Tidak ada yang modern,” kata Jumarno Joko Pratomo, ditemui di “kantornya” Jl. Raya Kebon-agung-Pakisaji No 28 Kabupaten Ma-lang ini. “Saya sudah jenuh dengan yang modern,” sambungnya.
Uniknya, masih kata Mas Joko, ke-tika akan mengerjakan patung primitif yang terbuat dari bambu ini, dia tak pernah membuat sketsa. “Sketnya ti-dak bisa dimal. Jadi, kalau mau buat patung, ya langsung buat saja. Spon-tanitas. Tak pernah saya pikirkan (bam-bu) ini mau dibuat apa. Pengerjaannya sangat tergantung mood saya,” jelasnya.

Namun, ahli pahat patung bambu ini mengakui bahwa sebelum memulai pekerjaannya, dia selalu melakukan meditasi, memohon petunjuk kepada Yang Maha Kuasa. Dengan cara ini, dia bisa menda-patkan solusi kira-kira bahan baku yang ada bisa dibentuk seperti apa.
Yang jelas, dia punya semboyan yang kiranya patut ditirukan oleh sia-pa pun. Apa itu? “Buatlah sesuatu yang bisa membuat orang terta-rik dan terse-nyum. Kalau orang sudah tertarik terhadap produk kita, tentu akan laku,” ujarnya.

Tidur Hanya 5 Menit
Kegiatan medita-si ini sudah ia jalani sejak kecil hingga usianya kini 43 tahun. “Jadi, saya su-dah terbiasa bermeditasi. Makanya, saya terbiasa tidur hanya 5 menit dalam 24 jam,” akunya.
“Iya, bapak itu biasanya tidur hanya 5 menit. Kadang bapak pesan mau tidur sebentar. Nanti kalau su-dah lima menit disuruh membangun-kan. Tapi belum 5 menit sudah tidur,” kata anak perempan Joko.
Meski hanya tidur 5 menit dalam sehari semalam, namun fisik Joko tetap sehat dan kuat. Bahkan, dia sekarang sibuk membangun work shop di belakang gardu PLN di kawasan Kebonagung, Pakisaji, Kabupaten Malang.
Hasil kerajinan ukir bongkot pring ini harganya mencapai Rp 25 juta. “Ini untuk satu barongan (satu rumpun bambu) dengan berbagai jenis ukir. Biasanya untuk kolektor. Tapi kalau yang biasa, seperti itik, hanya Rp 50 ribu per biji,” jelasnya.*