Meski Ada Mediasi, Proses Hukum Dugaan Bully Murid SMP Jalan Terus

MALANG, TABLOIDJAWATIMUR. COM – Adanya kabar mediasi (perdamaian) antara korban dan pelaku dugaan bully di SMPN 16 Kota Malang, Jawa Timur, tidak serta merta menggugurkan penyelidikan yang dilakukan Polisi. Mengingat, telah ditemukan adanya dugaan tindakan pidana saat jam sekolah.

 

 

Kapolresta Malang Kota, Kombes Leonardus Simarmata berdioalog dengan keluarga.

KAPOLRESTA Malang Kota, Kombes Leonardus Simarmata menjelaskan, pihaknya akan tetap fokus pada penyelidikan, melakukan proses hukum sesuai  porsinya.

“Terkait dengan itu (adanya kabar mediasi), tidak sekaligus menghentikan penyelidikan. Proses jalan terus. Bahkan, hari ini dilaksanakan pemeriksaan terhadap saksi- saksi. Jumlahnya 7 orang yang diduga sebagai pelaku. Sebelumnya, sudah 3 orang menjalani pemeriksaan,” terang Leo, Senin (03/02/2020) siang.

Ia melanjutkan, pemeriksaan terhadap anak- anak, tentu ada teknis khusus, dengan tetap memberikan hak perlindungan kepada mereka. Selain para saksi dari para siswa, nantinya sekolah juga akan dimintai keterangan.

“Saat ini yang terpenting adalah proses hukum  tetap berjalan dan pemulihan kondisi korban. Tentunya ada pendampingan dan trauma healing. Nantinya, hasil visum akan disandingkan dengan hasil pemeriksaan,” lanjutnya.

Kapolresta menambahkan, berdasarkan hasil  pemeriksaan, telah ditemukan beberapa luka memar di beberapa bagian tubuh korban, S (13), siswa SMPN 16 Kota Malang. Bahkan, satu jari tangan dalam kondisi memar dan membiru kehitaman. Dikabarkan, di bagian yang terparah, bukan tidak mungkin dilakukan amputasi.

Seperti diberitakan sebelumnya, beredar di media sosial atas dugaan kekerasan di sekolah SMPN 16 Malang. Kepala Sekolah SMPN 16 Kota Malang, Syamsul Arifin membenarkan kejadian itu di lingkungan sekolahnya. Menurutnya, hal itu terjadi di sekolahnya Rabu, (15/01/2020), setelah sebelumnya menanyakan kepada para siswa.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kota Malang, Dra. Zubaidah, MM, menjelaskan, setelah kejadian tersebut, siswa yang bersangkutan sudah masuk sekolah. Namun, kemudian ijin tidak masuk karena sakit. “Setelah kejadian, hari berikutnya sudah masuk sekolah namun diperban. Bahkan sudah ikut Pramuka. Namun akhirnya ijin tidak masuk karena sedang dirawat di rumah sakit sampai saat ini,” terangnya.

“Ada kejadian itu, tapi tidak kekerasan. Itu guyon dengan teman – temannya di masjid,” imbuh Zubaidah. (ide/mat)