Kemarau Ekstrim, Petani Sayur Poncokusumo Gagal Panen

Salah satu petani di Gubuk Klakah, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, Jawa Timur yang kebun tomatnya mengalami kekeringan.

MALANG, TABLOIDJAWATIMUR. COM – Akibat musim kemarau dengan perbedaan suhu yang tajam, menyebabkan petani sayur di Desa Gubuk Klakah, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, Jawa Timur, gagal panen.

 

SALAH satu petani tomat asal Desa Gubuk Klakah, Saiful (45), mengaku rugi puluhan juta akibat tanaman tomatnya mati karena layu sebelum dipanen. “Musim kemarau sekarang memang tidak panjang, namun perbedaan suhu yang ekstrim antara siang dan malam, yang membuat tomat rusak,” katanya, Kamis (13/09/2018).

Dr. Budiar Anwar,M.Si, Kadis Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Malang.

Menurutnya, jika siang,  suhu sangat panas, sedangkan malamnya suhu dingin sekali. Hal inilah yang diduga sebagai penyebab layunya tanaman tomat dan sayuran lainnya. “Untuk sementara ini, kami belum bisa berbuat apa-apa selain menunggu datangnya musim hujan. Karena air juga agak sulit. Kalau rugi, sudah pasti,” keluhnya.

Menanggapi keluhan petani di Desa Gubuk Klakah, Kecamatan Poncokusumo, Dr. Ir. Budiar Anwar, selaku Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura Kabupaten Malang, mengakui jika sebagian wilayah Kabupaten Malang mengalami kekeringan.

“Memang ada beberapa tempat yang mengalami kekeringan. Selain itu perbedaan suhu yang tajam, disiang dan malam hari membuat sejumlah produk pertanian seperti buah dan sayuran memang terganggu. Buah menjadi lebih cepat matang, meskipun belum masanya. Hal ini tentu mempengaruhi mutu,” jelasnya.

Meskipun di sejumlah daerah ada petani yang mengalami gagal panen, Budiar mengaku pasokan sayuran dan buah di Kabupaten  Malang saat ini masih aman, bahkan melimpah. “Saat ini memang saat panen untuk buah dan sayuran. Jadi,  meskipun sebagian petani ada yang mengalami gagal panen, namun dapat pasokan dari daerah lain. Bahkan pasokan sayur dan buah kita masih surplus,”jelasnya.

Terkait adanya keluhan kesulitan air yang juga dialami oleh warga Gubuk Klakah, mantan Kasubag Humas Pemkab Malang ini mengaku akan melihat kondisi dilapangan. “Kita lihat dulu kondisinya dilapangan, apakah memang tidak adanya sumber air atau ada sumber air tapi tidak bisa mengalir karena adanya kerusakan pada sistem irigasi,”ungkapnya.

Dia juga menambahkan, jika memang kendalanya ada di saluran irigasi, pihaknya meminta agar para petani tidak perlu khawatir, karena pihaknya akan berkerja sama dengan Dinas Pekerjaan Sumber daya Air untuk membuat saluran irigasi secara tertutup.

“Tahun depan kita mendapat bantuan dari pemerintah pusat untuk pembangunan irigasi dengan sistem tertutup. Nantinya sistem itu akan mengunakan pipa PVC untuk mengalirkan air ke kebun warga. Keuntungan sistem ini, air tidak banyak yang terbuang dan bersih jadi lebih steril dari hama atau penyakit,”pungkas Budiar. (diy)