Jadi Inspirasi Garuda Pancasila, Bupati Malang Kepincut Candi Kidal

Bupati Malang, HM Sanusi bersama wakilnya, Sudarman, turun dari Candi Kidal, Tumpang, Malang, Jawa Timur.

MALANG, TABLOIDJAWATIMUR. COM – Keberadaan Candi Kidal di Desa Kidal, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, Jawa Timur, cukup diminati wisatawan. Buktinya, jumlah kunjungan wisatawan, baik asing maupun domestik di candi ini sangat banyak, lebih dari 20.000 orang per tahun.

 

BAHKAN, Bupati Malang, HM Sanusi pun kepincut dengan peninggalan Kerajaan Singosari di era Raja Anusopati ini. Buktinya, dia meluangkan waktu khusus untuk mendatang Candi Kidal, Kamis (10/10/2019) siang. Selain diikuti sejumlah pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD), seperti Kepala Dinas PU Bina Marga Romdhoni, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Budi Iswoyo, Kabag Kesra Dwi Siswahyudi, bupati juga mengajak wakilnya yang baru saja terpilih, Sudarman.

Bupati Malang, HM Sanusi berada di pelataran Candi Kidal, Tumpang, Malang, Jawa Timur.

“Candi Kidal ini punya nilai sejarah yang sangat tinggi. Selain karena peninggalan Kerajaan Singosari, prasasti yang ada di  candi ini juga menjadi ilham dibuatnya lambang negara, Garuda Pancasila. Karena itu, candi ini harus dilestarikan dan harus dikembangkan menjadi wisata sejarah dan budaya,” kata HM Sanusi usai mengelilingi candi.

Juru pelihara Candi Kidal, Tumpang, Malang, Jawa Timur, Imam Winarko.

Imam Winarko, juru pelihara Candi Kidal menjelaskan, ada beberapa keistimewaan candi yang terletak di tepi jalan raya yang menghubungkan Kecamatan Tumpang dan Kecamatan Tajinan ini. Di antaranya, semua bangunan candi di Jawa Timur, arsitekturnya mencontoh Candi Kidal.

“Candi Kidal adalah candi yang pertama dan tertua dari peninggalan Kerajaan Singosari. Candi ini dibangun di masa Anusopati,  Raja Singosari kedua  setelah Ken Arok. Mengapa dikatakan candi tertua di era Singosari? Karena di era Ken Arok belum ada candi.  Baru pada masa Anusopati ada candi. Demikian pula di masa Tohjaya, Raja Singosari yang ketiga, juga  tak punya tinggalan candi. Baru pada masa Ronggowuni, putera Raja Anusopati, membuat Candi Jajago. Kemudian Raja Kertanegara membangun Candi Singosari,” terang Imam Winarko, Kamis (10/10/2019) di lokasi candi.

Imam juga menjelaskan, selain menjadi contoh arsitektur candi-candi di Jawa Timur, cerita Garuda Adhiparwa yang ada di Candi Kidal  ini pun mengilhami Presiden Soekarno menjadikan lambang negara, Garuda Pancasila. “Memang hanya tiga panel (relief), tapi kalau diceritakan, ceritanya sangat panjang,” ujarnya.

Pertama, garuda memanggul tiga raja naga (di sisi selatan candi). Ini filosofinya, garuda ikut memelihara anak Dewi Kadruk (adik tirinya garudea). Kedua, garuda memanggul guci kamandalu (tempat amerta)  atau air abadi (di sisi  timur candi). Siapa yang bisa minum air ini,  tak akan bisa mati. Kalau diterjemahkan dengan kondisi sekarang, kira-kira yang dimaksud adalah air susu ibu. Ini sebagai simbol bahwa dia bisa membebebasakn ibunya dari perbudakan Dewi Kadru.

Ketiga, garuda memanggul ibunya, Dewi Winata (di sisi utara candi). Menurut Imam Winarko, relief ketiga ini menceritakan bahwa anak harus bisa mikul duwur mendem jeru (menjunjung tinggi) kedua orang tuanya, khususnya ibu. “Nah, Pak Karno ambil globalnya saja. Yang beliau maksud dari cerita ketiga relief ini adalah  membebaskan ibu pertwi dari penjajahan,” terangnya.

Terkait dengan kunjungan wisatawan, Imam Winarko menjelaskan, jumlahnya cukup banyak, terutama di bulan Juni, Juli, Agustus dan September. Untuk turis asing saja, dalam setahun, lebih dari 1.000 orang. Sedangkan turis domestik (Indonesia) malah lebih banyak. Kalau ditotal, jumlahnya bisa mencapai 20.000 wisatawan asing dan domestik dalam setahun. (iko/mat)