Akibat Malaria, Belajar Mahasiswa ITN Ini Bikin Haru

MALANG, TABLOIDJAWATIMUR. COM – Cara belajar dan komunikasi mahasiswa ITN (Institut Teknologi Nasional) Malang, Jawa Timur, ini bikin haru. Pasalnya, Muhamad Ighnata Hakim Ilmi (22), mahasiswa jurusan Teknik Informatika, Fakultas Teknik Industri / FTI ini, mengalami kekurangsempurnaan pendengaran dan  berbicara.

 

Muhamad Ighnata Hakim Ilmi (22), jurusan Teknik Informatika, Fakultas Teknik Industri / FTI bersama teman-teman sesama mahasiwa ITN.

 

NAMUN, hal itu tidak mengurangi semangat belajar untuk menuntut ilmu. Ini dibuktikan dengan telah diraihnya IPK 3.05 dengan masa studi 4 tahun.

Dalam berinteraksi, dirinya tidak pernah lepas dengan handphone. Dengan salah satu aplikasi yang ada, ia merasa sangat terbantu dalam beraktivitas. “Kalau berinteraksi, HP nya selalu di-on-kan. Sehingga, suara yang muncul dalam percakapan, langsung tertulis dan terketik secara otomatis di layar HP. Selanjutnya dibaca, dan ditanggapi atau dijawab dengan mengetik di bawahnya,” tutur salah satu rekannya, Ayu Lutfi yang juga mahasiswi di ITN.

Selain itu, Ightana juga mengamati gerak bibir, bahkan bahasa isyarat dari lawan bicara, untuk kemudian dipahami. Ia mengaku, pada awalnya, anak pertama dari dua bersaudara ini, sempat minder dan mengalami kesulitan. Bahkan sempat menyendiri dengan kondisi kekurangan yang dialami.

“Aplikasi di HP itu, baru saya tahu di semester 7. Seandainya saya tahu dari awal kuliah, pasti akan memudahkan dalam perkuliahan saya,” jelas Ighnata yang memberi jawaban lewat ketikan di HP nya.

Bahkan, saat ini laki- laki asal Kabupaten Trenggalek ini, aktif dalam Komunitas Tuli Trenggalek (komtutre). Beberapa kegiatan lain, saat ini telah aktif mengajar les privat anak tuna rungu.

Ia berharap, ke depan bekerja seperti orang normal,  bahkan mengedepankan IT, meskipun disabilitas. Ia menyakini, sang pencipta akan memberikan apa yang dibutuhkan makhluk- Nya.

Muhamad Ighnata Hakim Ilmi  bercerita, mengalami keterbatasan berbicara dan pendengaran, sejak usia satu tahun. Itu dikarenakan terkena Malaria Tropika, sehingga hilang pendengaran. Kini, ia menggunakan alat bantu transkripsi instan dalam berinteraksi.

Sebagai putra dari ayah yang seorang hakim di Pengadilan Agama di Lumajang dan ibu seorang guru SMPN di Trenggalek, memilih skripsi terkait dengan perceraian.

“Saya sejak PKL di Pengadilan, maka membuat skripsi tidak rerlalu sulit. Selain itu, pernerbitan akta cerai masih secara manual, sehingga memerlukan aplikasi penerbitan akta carai,” pungkasnya. (ide)