TABLOID JAWA TIMUR

Informasi Daerah Jawa Timur

Ir. Renung Rubiyatadji, MM, lolos menjadi kandidat ASN Kategori Inspiratif yang digelar Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan RB).

Usung Edu Sampah Cipta Kerja, Renung Lolos Kandidat ASN Kategori Inspiratif

MALANG, TABLOIDJAWATIMUR.COM – Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) pada kantor Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Malang, Jawa Timur, Ir. Renung Rubiyatadji, MM, lolos menjadi kandidat ASN Kategori Inspiratif  yang digelar Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan RB).

 

Ir. Renung Rubiyatadji, MM, membina para kader lingkungan untuk mengelola sampah.

 

Kesadaran masyarakat yang masih membuang sampah di sembarang tempat, menjadi pekerjaan rumah bagi Ir. Renung Rubiyatadji, MM, dan timnya.

SAAT dihubungi redaksi tabloidjawatimur.com, Senin (13/09/2021) siang, Renung Rubiyatadji membenarkan berita bahwa dia lolos dalam ajang berskala nasional tersebut. “Alhamdulillah, untuk saat ini saya lolos, menjadi  kandidat ASN kategori inspiratif yang diselenggarakan Kemenpan RB,” katanya saat dihubungi via HP.

Ir. Renung Rubiyatadji, MM, lolos menjadi kandidat ASN Kategori Inspiratif yang digelar Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan RB).

Pejabat di Dinas LH yang sehari-hari menggeluti masalah sampah dan limbah B3 ini menjelaskan, dalam lomba ini, dia menyodorkan program inovasi Edu Sampah Cipta Kerja yang sudah dijalankan Pemerintah Kabupaten Malang selama bertahun-tahun. Perannya, sebagai inovator, perencana, pendampingan, monitoring, dan pembina.

Dalam program ini  (Edu Sampah Cipta Kerja),  Renung mengajak/mengedukasi masyarakat supaya mau mengelola sampah untuk menciptakan lapangan kerja, dalam bentuk Bank Sampah dan  TPS3R (Tempat Pengelolaan Sampah berbasis Reduce, Rese, Recycle).

Ir. Renung Rubiyatadji, MM, sering menerima tamu dari dalam dan luar negeri untuk belajar pengelolaan sampah dan limbah B3, seperti di TPST3R Mulyoagung, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, Jawa Timur ini.

Apalagi di masa pandemi COVID-19 seperti sekarang, peluang kerja semakin menurun dan banyak pekerja yang di PHK, sehingga potensi mengelola sampah menjadi peluang kerja sangat besar. “Karena sampah bekas, seperti plastik, kertas, logam, streoform, karet, sepatu bekas, dan sebagainya, setelah dipilah, dikumpulkan, lalu dijual, bisa menghasilkan uang,” katanya.

Hasil penjualan plus iuran dari masyarakat tersebut dipakai untuk biaya operasional TPS3R. Contohnya, TPST3R Mulyoagung Bersatu, Desa Mulyoagung, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, Jawa Timur  yang sudah berjalan lebih dari 10 tahun. “Di Kabupaten  Malang, saat ini ada sekitar 30 –an TPST3R sejenis Mulyoangung,” kata Renung.

“Memang, kami ASN di Pemkab Malang. Tapi program Edu Sampah Cipta Kerja ini tidak hanya kami lakukan di Kabupaten Malang saja, tapi juga di luar Kabupaten Malang. Jadi, kami mampu mengajak masyarakat di luar Kabupaten Malang untuk melaksanakan Edu Sampah Cipta Kerja, karena program ini dapat menjadi peluang kerja,” terangnya.

Kok bisa?  “Iya, karena sebagian sampah ada yang mengandung nilai ekonomis. Makanya,  sampah yang diambil dari masyarakat itu dipilah lebih dulu, kemudian diolah, lalu dijual untuk menambah pendapatan pengelola. Sedangkan residunya (sampah yang tidak punya nilai ekonomis, seperti pampers bekas, kemasan-kemasan kecil, dan sebagainya)  dibawa ke TPA untuk ditimbun dan diolah menjadi gas metan,” jawabnya.

Menurut Renung, Edu Sampah Cipta Kerja ini sebetulnya sudah dikerjakan oleh Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Malang  sejak tahun 2006. Tapi baru dikenalkan secara umum pada tahun 2019.

Terkait dengan TPST3R Mulyoagung Bersatu, menurut Renung, pendapatannya sekitar Rp 250 juta – Rp 260 juta per bulan. Layanannya mencakup  12 ribu rumah tangga, termasuk cafe, perusahaan, hotel, dan sebagainya.

Dari total pendapatan, sekitar 42% berasal dari iuran warga. Sedangkan yang 58 % dari penjualan lapak dan kompos.  Dari total pendapatan itu, habis dipakai untuk biaya operasional, seperti upah 91 orang tenaga kerja   dan operasional, seperti untuk bahan bakar minyak. “Di sini iurannya murah kok, hanya  Rp 12.500 – Rp 15.000 per bulan per KK,” katanya. (iko/mat)