20 Juli 2024

`

Jelajah Situs Pawitra 17 di Hutan Sukamerta Genting (2)

2 min read

Prasasti 1245 Saka, Bicara Keberhasilan Pertapa Melepas Keduniawian

 

MOJOKERTO, TABLOIDJAWATIMUR.COM – Setelah berjalan naik dan berbelok- belok satu jam lebih, peserta Jelajah Situs Pawitra (JSP) 17 terbelalak, ketika menjumpai batu cukup besar. Di hamparan tanah nyaris tak berumput. Padahal berada di tengah rimbunnya hutan Sukamerta. Batu prasasti itu berangka tahun 1245 Saka/ 1323 Masehi.

 

Pembina JSP Sanan Surya Sindhu Patih menjelaskan bunyi Prasasti 1245 Genting kepada peserta. (foto : Muhammad Fahmi, Ketua Umum JSP)

 

PENAMAAN hutan Sukamerta sendiri diambil dari prasasti yang diduga ditemukan di antara lembah Gunung Bekel dan Gunung Gajahmungkur (dua gunung perwara yang ada di Pawitra/Gunung Penanggungan), berangka tahun 1218 Syaka/ 1296 Masehi.

Peserta Jelajah Situs Pawitra (JSP) 17 berada di plataran Batu Prasasti 1245 Saka Genting. (foto : Muhammad Fahmi, Ketua Umum JSP)

“Prasasti Sukamerta berbentuk lempengan (tamra prasasti). Dikeluarkan Raja (pertama) Wilwatiktapura Kartarajasa Jayawardana,” kata Sanan Surya Sindhu Patih, pembina Perkumpulan JSP di hadapan rombongan peserta JSP 17.

Setelah mengawali sejarah hutan Sukamerta, Sanan Surya Sindhu Patih yang juga salah satu pendiri Perkumpulan JSP membeber Batu Prasasti di hadapan peserta. “Batu ini kita sebut Prasasti Genting/Prasasti 1245 Saka. Ada pahatan tulisan dalam bingkai ukuran lebih kurang 10 x 20 cm,” jelas Kang Sindhu.

Peserta Jelajah Situs Pawitra (JSP) 17 mendapat penjelasan dari Pembina JSP Sanan Surya Sindhu Patih mengenai bunyi Prasasti 1245 Genting. (foto : Muhammad Fahmi, Ketua Umum JSP)

Prasasti Genting angka tahunnya bertepatan dengan pemerintahan di Kotaraja Majapahit, yaitu Sri Jayanagara. Raja kedua  Majapahit. Adapun bunyi Prasasti Genting Sukamerta/berangka tahun 1245 Saka, itu belum bisa dibaca secara utuh. Karena Prasasti itu berukuran pendek, dan aus tergerus proses alam.

Kang Sindhu pun membaca prasasti sesuai kemampuannya, antara lain berbunyi: “1245” om Hung- lii- chi- . . .r (layar)- pang- bu- ddhi-ma- ya”. Bila diartikan secara bebas artinya: “Salam/selamat” hari ini (kedua dalam sad wara). Menjauhkan diri dari keduniawian dalam mempelajari ilusi dari cabang buah pikiran (buddhi pekerti)”.

Pembina JSP Sanan Surya Sindhu Patih menjelaskan bunyi Prasasti 1245 Genting kepada peserta. (foto : Muhammad Fahmi, Ketua Umum JSP)

Andai itu benar, tentu itu adalah perkataan seorang pertapa. Menariknya, tempat di mana prasasti itu berada dalam area Perdikan Krsyan Pawitra. “Kita tahu, Pawitra adalah sebuah Perdikan Krsyan di gunung yang tentunya dihuni oleh para pertapa. Para pertapa itu tersebar di seluruh kawasan Pawitra. Setelah mereka belajar ilmu keagamaan di Darmma srama nya. Seperti sekolahan atau pondok tempat menimba ilmu,” katanya.

Dikatakan, Darmma srama Patapan i Pawitra merupakan tempat Kedewaguruan Krsyan yang dipimpin oleh Mahaguru, Maharsi, lalu Rsi kemudian calon Rsi. Darmma srama itu diduga terletak di lereng timur Pawitra. Tepatnya di Desa Wonosunyo, Gempol, Kabupaten Pasuruan. Tidak jauh dari Patirtan Sumber Tetek.

Diduga pada zaman itu jumlah Rsi sangat banyak. Kalau melihat luasnya situs Dharmmasrama Krsyan, bisa  ribuan calon Rsi yang belajar disana. Setelah menerima ilmu, para calon Rsi melanjutkan perjalanannya untuk bertapa di Pawitra, kemudian menyebar ke penjuru wilayah kerajaan.

“Dan Prasasti Genting Sukamerta adalah karya Sang Pertapa calon Rsi yang telah menyelesaikan pertapaanya. Lalu dikukuhkan sebagai seorang Rsi penerus Darmma Krsyan di Pawitra,” jelas Kang Sindhu yang juga pendiri Perkumpulan Pendaki Rutinan Naga Peksi Wilwatikta (NPW). (adi/mat/bersambung)