22 April 2024

`

Jelajah Situs Pawitra 17 di Hutan Sukamerta Genting (3)

2 min read

Makam Mbah Wiyu, Makam Seorang Pertapa?

 

MOJOKERTO, TABLOIDJAWATIMUR.COM – Belum kering keringat peserta yang melepas lelah di Prasasti Genting 1245 Saka, mereka harus naik lagi. Meski demikian para peserta Jelajah Situs Pawitra (JSP) ke-17 tetap semangat mengikuti jalur terjal dan licin. Sekitar 15 menitan, sampailah di sebuah punden kuno. Masyarakat Genting dan sekitarnya menyebut Punden Mbah Wiyu. Karena makam tersebut terletak di bawah pohon Wiyu. Siapa sebenarnya Mbah Wiyu?

 

Peserta di areal Makam Mbah Wiyu yang dikeramatkan warga. (foto : Muhammad Fahmi, Ketua Umum JSP)

 

SITUS Makam Mbah Wiyu sudah ada di masa Majapahit. Rujukannya, karena ada tujuh Perdikan Krsyan. Satu di antaranya adalah Pawitra. Dalam catatan Kakawin Desawarnnana, situs Punden Mbah Wiyu adalah sebuah makam yang diduga cukup kuno.

Peserta Jelajah Situs Pawitra (JSP) 17 harus melalui jalan menanjak dan licin untuk sampai di sebuah punden kuno. Masyarakat Genting dan sekitarnya menyebutnya Punden Mbah Wiyu. Karena makam tersebut terletak di bawah pohon Wiyu. (foto : Muhammad Fahmi, Ketua Umum JSP)

Cerita tutur masyarakat Desa Wotan Mas Jedong, khususnya bagi warga Dusun Genting, punden Mbah Wiyu berada di ketinggian 600 mdpl. Berada di dalam lebatnya hutan Sukamerta. Di makan ini banyak batu andesit sisa-sisa reruntuhan bangunan punden berundak (candi). Dijadikan nisan sosok yang dihormati masyarakat. Nisan itu berada dalam kotak persegi panjang, terbuat dari tumpukan batu andesit juga.

Makam kuno Mbah Wiyu bernisan batu andesit reruntuhan candi. (foto : Muhammad Fahmi, Ketua Umum JSP)

“Masyarakat masih belum tahu siapa yang dimakamkan di situ. Oleh karena di pinggir makam tersebut terdapat pohon Wiyu, kemudian diberi nama Mbah Wiyu,” kata pembina JSP yang akrab disapa Kang Sindhu.

Mengingat area hutan Dusun Genting masih wilayah Pawitra, muncul pertanyaan di benak Kang Sindhu,  “Apakah Makam Mbah Wiyu termasuk makam salah seorang Resi?”

Peserta di areal Makam Mbah Wiyu yang dikeramatkan warga. (foto : Muhammad Fahmi, Ketua Umum JSP)

Tentunya masih harus didalami dan diteliti lebih lanjut. Mengingat kearifan lokal warga setempat menyebutnya makam sosok yang babat hutan perkampungan mereka.

Masih kata Pembina JSP, ada yang menarik dari Krsyan Pawitra itu sendiri. Apabila lepas (diluar keyakinan agama Siwa dan Budha) tentunya, para Rsi juga dimakamkan jika sudah meninggal dunia.

Kembali dalam catatan Kakawin Desawarnnana, Krsyan Pawitra terhitung berdiri sendiri sebagai perdikan bebas pajak, yang khusus dihuni para Rsi, Darmma Krsyan i parsyanin acala Pawitra.

“Hemat kami, Krsyan terlepas dari dua agama besar di masyarakat Majapahit kala itu. Yaitu Darmma Kasaiwan dan Darmma Kashogatan. Dan ketika ada sebuah makam di Pawitra (makam kuno) layak diduga sebagai makam para Rsi yang pernah tinggal dan hidup di area Pawitra,” kata Kang Sindhu. (adi/mat/bersambung)