20 Mei 2024

`

DERING, Smart Headband Untuk Cegah Disabilitas Pasien Epilepsi

2 min read

MALANG, TABLOIDJAWATIMUR.COM – Lima mahasiswa lintas jurusan dari Teknik Elektro dan Kedokteran Universitas Brawijaya (UB) Malang, Jawa Timur, berhasil menciptakan alat deteksi gelombang otak berbasis Artificial Intelligence (AI) yang dapat mencegah disabilitas bagi para penderita epilepsi.

 

Inilah lima mahasiswa lintas jurusan dari Teknik Elektro dan Kedokteran Universitas Brawijaya (UB) Malang, Jawa Timur, yang menciptakan alat deteksi gelombang otak berbasis Artificial Intelligence (AI) yang dapat mencegah disabilitas bagi para penderita epilepsi.

 

KETUA TIM, Ilham Fathurrahman Hamzah, menjelaskan, epilepsi merupakan penyakit gangguan aktivitas listrik otak yang dapat terjadi pada setiap orang, berbagai usia. Meskipun kejadian kejang atau epilepsi dapat berujung pada kecacatan, bahkan kematian, nyatanya penyakit ini masih sering terabaikan di Indonesia. Sampai saat ini belum ada alat yang dapat memantau secara langsung kondisi pasien apabila mengalami serangan kejang.

Salah satu mahasiswa mempraktekan cara menggunakan alat deteksi gelombang otak berbasis Artificial Intelligence (AI) yang dapat mencegah disabilitas bagi para penderita epilepsi.

“Hal tersebutlah yang melatarbelakangi terciptanya DERING (Detection and Monitoring Epileptic Seizures) yang dirangkai dalam bentuk smart headband sehingga mudah digunakan dan berguna mencegah kecacatan pada pasien epilepsy,” jelas Ilham, Rabu (27/09/2023) siang.

Ilham menjelaskan, teknologi ini mengintegrasikan kecerdasan buatan dan mengolah berbagai parameter, seperti gelombang otak, detak jantung, dan kemiringan tubuh untuk mendeteksi kejang epilepsi. DERING juga memantau parameter tersebut dari smartphone, sehingga keluarga penderita dapat mengetahui aktivitas dan posisi penderita.

“Keunggulan DERING antara lain desain yang nyaman, kecerdasan buatan yang dapat mendeteksi aktivitas gelombang otak yang abnormal, fitur layanan darurat, dan konsultasi dengan dokter. DERING diciptakan untuk disability limitation atau mencegah kejadian buruk, seperti kematian akibat epilepsi. Karena penderita epilepsi dapat mengalami kejang kapan saja dan di mana saja,” kata Ilham Fathurrahman Hamzah.

Alat DERING menawarkan berbagai keuntungan pada penderita epilepsy, mulai dari harganya yang ekonomis, aman, nyaman digunakan serta pasien dapat dipantau secara real time sehingga mencegah kecacatan bahkan kematian. “Dengan memanfaatkan sensor EEG dan sensor Accelerometer Gyroscope, DERING dapat menangkap gelombang otak, seperti sinyal delta, theta, alpha, beta, gamma, denyut nadi, dan koordinat posisi,” terangnya.

DERING juga dilengkapi alarm tanda bahaya bagi orang di sekitar penderita, sehingga ketika terjadi serangan kejang, maka bantuan dapat segera diberikan. Teknologi ini terhubung ke aplikasi smartphone sehingga bisa memunculkan hasil pemantauan dari sensor Electroencephalography (EEG) dan sensor Accelerometer Gyroscope, lokasi penderita epilepsi, edukasi terkait epilepsi, fitur konsultasi ke dokter, serta DERING akan menghubungi emergency service secara otomatis apabila terdapat kondisi darurat melalui fitur emergency call.

“Dering EEG diharapkan mampu menjadi solusi bagi pasien epilepsi untuk beraktifitas normal dengan meminimalisir kekhawatiran keluarga dan kerabat karena bisa melakukan monitoring kondisi dan lokasi secara real time,” harap Ilham.

Ide ini telah mendapatkan bantuan pendanaan dari Kemendikbud dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) bidang Karya Cipta dan akan berjuang untuk mengikuti seleksi PIMNAS XXXVI mendatang.

DERING dibimbing oleh Dosen Teknik Elektro, Ir. Nurussa’adah, MT, dan Dosen Kedokteran, dr. Shahdevi Nandar Kurniawan, Sp. S (K). Tiim ini terdiri dari Ilham Fathurrahman Hamzah (FT’21), Lukman Hidayat (FT’21), Steffany Dilent (FT’21), Nidya Sekarsari Setyabudi (FK’21), dan Nasim Amar (FK’20). (div/mat)