18 Mei 2024

`

Mahasiswa Teknik UB Ciptakan Lampu Penanda Gempa

2 min read

MALANG, TABLOIDJAWATIMUR.COM – Empat mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (FT UB), Malang, Jawa Timur, menciptakan LAGA GEMPA (Lampu Siap Siaga Gempa) yang berfungsi sebagai early warning system otomatis di daerah rawan gempa.

 

Inilah LAGA GEMPA (Lampu Siap Siaga Gempa) ciptaan empat mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (FT UB), Malang, Jawa Timur, yang berfungsi sebagai early warning system otomatis di daerah rawan gempa.

KETUA Tim Mahasiswa, Yusuf Yuaniar, menjelaskan, temuan ini dapat membantu masyarakat agar dapat menyelamatkan diri lebih cepat dari bahaya gempa bumi. “Dengan bunyi alarm yang bisa menjangkau dua sampai tiga kamar tidur, korban jiwa akibat bencana gempa bumi dapat terkurangi,” katanya, Rabu (27/09/2023) siang.

Selain itu, masih kata Yusuf, alat ini juga dapat digunakan sebagai lampu tidur dengan warna warm white dengan desain berbentuk prisma trapesium yang dapat menambah estetika ruangan. Lampu ini menggunakan baterai Li-ion 18650 yang dapat diisi ulang dayanya sehingga bisa menghemat biaya. “Memiliki daya 13.000mAh, alat ini dapat menyala seharian penuh dan dapat diisi ulang dayanya selama delapan jam,” katanya.

Inovasi ini diikutsertakan dalam Program Kreativitas Mahasiswa yakni Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Republik Indonesia. Inovasi ini berhasil mendapatkan pendanaan dan saat ini sedang dalam tahap pemasaran penjualan produk LAGA GEMPA.

Tim yang beranggotakan Cyril Wahyu Dwi Anugrah (Teknik Elektro), M. Fajar Arif (Teknik Elektro), dan Deca Melani (Perencanaan Wilayah dan Kota) ini berhasil membuktikan dan memberikan gebrakan baru dalam pemberian peringatan pertama sebelum terjadinya gempa bumi. “Alat ini sudah dipasarkan melalui instansi pendidikan, rumah kos, dan daerah rawan gempa bumi. Lokasi tersebut memerlukan sebuah peringatan pertama guna mitigasi bencana gempa bumi,” kata Yusuf.

Alat ini telah digunakan di Kota Malang, Cianjur, Jogja, Aceh, Probolinggo, dan sekitarnya. Tidak hanya itu, alat ini juga dipesan langsung oleh tenaga pendidik asal United Kingdom (UK) sebagai perbandingan alat yang kompeten dalam mitigasi bencana gempa bumi.

“Saat ini kami membuka pre-order dan sudah dipasarkan melalui freelancer di Aceh, Yogja, Lombok, Bogor, Probolinggo, Malang, dan sekitarnya. Alat ini dijual seharga Rp 400 ribu untuk satu lampu, dengan keunggulan dapat mendeteksi gempa bumi mulai dari getaran rendah, menengah, hingga getaran tinggi yang disertai bunyi alarm yang berbeda-beda,” jelas Yusuf. (div/mat)