Pendekar Pencak Silat PSHT Ikrar Damai

MALANG, TABLOIDJAWATIMUR. COM – Para pendekar pencak silat Persaudaraan Setia Hati Teratai (PSHT) melakukan ikrar damai di halaman Mapolresta Malang, Minggu (23/09/2018).

 

Para anggota Persaudaraan Setia Hati Teratai (PSHT) saat melakukan ikrar perdamaian di Mapolresta Malang.

 

Kabag Ops Polres Malang Kota, Kompol Sutantyo memberikan keterangan.

PEMBACAAN ikrar damai itu dilakukan karena di malam sebelumnya, diduga terlibat dalam kerusuhan di kawasan Jl. Bendungan Sutami, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang serta di daerah Jl. S. Supriadi, Kecamatan Sukun, Kota Malang.

Kepala Bagian Operasional Polres Malang Kota, Kompol Sutantyo menjelaskan, para anggota PSHT itu dilakukan pendataan dan penyelidikan atas dugaan kekerasan terhadap warga sekitar.

“Ada laporan tindakan kekerasan yang diduga dilakukan para anggota PSHT. Dari laporan itu, dilakukan penyelidikan, sehingga sekitar 43 orang digiring ke Mako Polresta. Mereka semua didata, termasuk sidik jarinya, bahkan diminta membuat surat pernyataan,” tutur Kabag Ops, usai memberikan arahan kepada para anggota PSHT.

Ia melanjutkan, dari sejumlah anggota tersebut,  ada satu orang anggota perempuan. Selain, itu sebanyak 27 sepeda motor yang dipakai konvoi, diamankan di Mapolresta Malang. Mereka berasal dari berbagai daerah di Jawa Timur, mulai Tulungagung, Madiun, Tuban dan beberapa daerah lainya. Mayoritas dari mereka adalah para mahasiswa yang sedang menuntut ilmu di Kota Malang.

Lebih lanjut Kabag Ops menjelaskan, peristiwa itu terjadi berawal saat para anggota itu hendak menuju ke kawasan Turen. Dalam jumlah besar, melakukan konvoi sehingga berpapasan dengan masyarakat pengguna jalan. Hingga terjadi gesekan, karena makan jalan.

“Sebelumnya, para anggota itu dalam jumlah banyak berkumpul di depan UIN (Universitas Islam Negeri) Malang. Selanjutnya melakukan konvoi menuju Turen, Kabupaten Malang  untuk menghadiri pengukuhan warga baru. Karena berkonvoi dan makan jalan, akhirnya berpapasan dengan pengguna jalan lain. Emosi mendapat teguran, di situlah terjadi beberapa pemukulan, hingga ada satu sepeda motor yang rusak. Untuk korban luka ringan ada 3 orang, satu di antaranya sudah melapor ke Mako Polresta,” lanjutnya.

Usai dilakukan pendataan, para pendekar PSHT itu kemudian dikembalikan kepada organisasinya untuk menerima arahan lebih lanjut.

“Karena tidak cukup bukti, selanjutnya kita kembalikan ke organisasinya. Namun penyelidikan tetap dilanjutkan, mengingat dari para korban yang dimintai keterangan, bukan dari mereka pelakunya,” pungkas mantan Kapolsek Sukun ini.

Sementara itu, Ketua PSHT Cabang Kota Malang, Robby Setia Rastanto Darmawan menjelaskan,, awalnya mengaku kaget saat mendengar adanya kejadian itu. Ia mengaku, saat peristiwa terjadi, dirinya sedang berada di Turen, lokasi pengukuhan / wisuda anggota PSHT.

“Iya, ini sebagai sock terapi. Sebelumnya, sudah kami himbau agar tidak melakukan konvoi. Karena rawan gesekan. Mereka adalah anggota PSHT, dari berbagai Perguruan Tinggi di Kota Malang, yang berasal dari berbagai daerah. Karena di Kota Malang menjadi tanggungjawab organisasi kami yang di Malang,” tuturnya saat dikonfirmasi.

Ia berharap, kejadian yang baru pertama kali di Malang ini, tidak akan berulang. Disinggung adakah sanksi, ia menjelaskan hal itu menjadi urusan internalnya. “Untuk yang itu, biar manjadi urusan internal kami,” pungkasnya.(ide)