Nikmatnya Nasi Uduk Mas Afin, Kurang 1 Menit Siap Santap

MALANG, TABLOIDJAWATIMUR. COM – Memiliki usaha, tentu memberikan kenyamanan tersendiri. Tidak saja mempunyai kebebasan waktu, pendapatan pun bisa lebih banyak jika dibandingkan menjadi karyawan. Karena itu, tidak perlu berlama lama menjadi karyawan, jika ingin mengetahui potensi dan kemampuan diri. Namun demikian, dibutuhkan nyali dan keberanian untuk keluar dari zona nyaman yang pernah dirasakan.

 

 

Muhammad Shoffin Dwiono saat memberikan pelayanan pada pelanggan di salah satu outletnya.

HAL INI sudah dibuktikan Muhammad Shoffin Dwiono (27), warga Jl. Kedawung, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, Jawa Timur. Dulu, dia adalah mantan karyawan dengan posisi kepala kantor, di sebuah perusahaan swasta di Kota Malang. Dia resign sejak 2015.

Salah satu outlet nasi uduk milik Muhammad Shoffin Dwiono.

Selanjutnya, ia mengembangkan usaha makanan, yang dinamai Nasi Uduk Jakarta Mas Afin. Hal Itu dilakukan karena ia ingin mengembangkan potensi diri, dari usaha yang telah dirintis orang tua, sejak tahun 1990.

Nasi uduk adalah nasi putih dengan campuran santan. Rasanya gurih,  beraroma wangi rempah- rempah.

“Usaha jualan nasi uduk ini sudah turunan dari keluarga. Ini generasi kedua. Karena diawali dari orang tua saya tahun 1990. Sebelumnya, saya bekerja di perusahaan swasta di Kota Malang selama 4 tahun, jabatan terakhir sebagai salah satu kepala kantor,” tutur Shoffin, saat ditemui di salah satu outletnya di Jl. Ikan Tombro Timur 50A, Kecamatan Blimbing, Kota Malang.

Ia menceritakan, orang tuanya merintis usaha nasi uduk tahun 1990, di Tangerang, Jawa Barat. Selanjutnya, di tahun 1991, pindah ke Kota Malang dan mulai dikembangkan. Namun, seiring berjalannya waktu, mulai tahun 1998, sempat vakum dan tidak aktif berjualan.

“Sempat vakum, tidak ada aktivitas penjualan. Karena orang tua ada kesibukan lain, akhirnya tutup. Kemudian di bulan Januari tahun 2015, baru bisa mulai dibuka kembali. Saya sendiri ikut dalam pengembangan usaha itu. Modalnya, optimis dan memulai, karena nantinya, bisa dievaluasi,” lanjut suami, Cori Umairoh ini.

Setelah membuka kembali, beberapa bulan selanjutnya, dirasa berpeluang. Sekitar bulan Juni 2015, Afin —panggilan Shoffin—- mengundurkan diri dari tempat kerja. Dengan yakin dan optimis, ia memilih untuk serius di usaha kuliner,  yakni berjualan nasi uduk, yang pernah tutup bebrapa tahun sebelumnya.

“Beberapa bulan setelah memulai kembali usaha, saya memilih mundur dari kerjaan di kantor. Saya fokus di usaha jualan nasi uduk. Bahkan, di tahun 2016, resep dari orang tua itu, saya sesuaikan dengan resep aslinya, dari nasi uduk  Jakarta. Saya belajar di sana, ditambah bumbu rempah rempah dan lain lain, sehingga sama dengan resep asli dari Jakarta. Bahkan, di sana pula, saya dapat jodoh,” imbuh laki – laki ramah ini.

Saat ini, Afin telah memiliki 3 outlet, dan siap melayani konsumen. Ketiganya berada di kawasan Kedawung, tempat tinggalnya, di Jl. Kali Urang serta Jl. Ikan Tombro Timur. Dalam waktu dekat, segara dibuka outlet baru di kawasan Kalpataru, Kota Malang.

Penyajian nasi uduk cukup cepat, bahkan Afin menyebut, kurang dari 1 menit, nasi uduk sudah siap santap.

Rasa gurih nasi campur santan, dilengkapi mie, kering tempe, sambel serta kerupuk. Bisa dipastikan, rasa itu akan menggoyang lidah para penikmat nasi uduk. Komposisi itu pun, masih dimodifikasi dengan lauk bakwan, ayam goreng, ayam semur maupun bali telur.

Menurutnya, kalangan pembeli dari berbagai lapisan dan usia. Mulai anak sekolahan yang butuh sarapan di pagi hari, warga sekitar perumahan maupun para pengguna jalan yang melintas di depan outletnya.

Dalam sehari, yang buka mulai pukul 06.00 – 11.00 WIB, ia mengaku bisa menjual 40 – 45 porsi. Outlet buka setiap hari, kecuali hari Selasa minggu kedua. Dalam sehari, jika dinominalkan, ia mendapatkan penghasilan kotor sekitar Rp. 400 ribu – Rp 500. Dari hasil itu, modal yang diperlukan hanya dalam kisaran 50 persen saja.

Teknis penjualan pun sangat praktis, bisa dengan cara  membeli langsung maupun melalui online. Ia menjual, dari harga Rp. 7000 – Rp 13.000 setiap porsi. Harga itu akan ada penambahan jika melalui online.

Disinggung suka duka, Afin menerangkan, jika kondisi hujan, memang berpengaruh kepada penjualan. Selain itu, ketika sepi pembeli, tentu menjadi hal yang tidak diinginkan. Namun, selain dari itu semua, keberadaan SDM, menjadi faktor kendala lainnya. Mengingat, tidak mudah mendapatkan mitra kerja yang bisa dipercaya, sehingga malah dirasa bisa merugikan.

“Untuk saat ini, ada 3 pekerja. Bagian produksi serta jaga outlet. Namun, ternyata cukup sulit mencari SDM, terutama yang amanah. Itu menjadi salah satu kendala dalam usaha ini. Selain itu, jika pembeli pas menurun, tentunya menjadi yang tidak kami inginkan,” katanya.

Ia berharap, semoga semua kendala nantinya bisa segera teratasi. Produk bisa diterima masyarakat luas, dan semakin banyak outlet yang merata di Kota Malang. “Saya ingin pengembangan jumlah outlet. Di tahun depan, kami berharap bisa mempunyai 20 outlet, dan ada yang model restoran,” harap  Afin.  (ide)