10 Agustus 2022

TABLOID JAWA TIMUR

Informasi Daerah Jawa Timur

Mahasiswa FT UB membuat bahan bakar dari limbah plastik dan ekstrak daun jeruk purut.

Mahasiswa UB Kembangkan Bahan Bakar dari Limbah Plastik

MALANG, TABLOIDJAWATIMUR.COM – Tiga mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (FT UB), Halifah Salsabila (Kimia), Galuh Wahyu Karti’a (Kimia), dan Fadhilah Al Mardhiyah (Teknik Kimia), di bawah bimbingan Dr. Yuniar Ponco Prananto, SSi, MSc, mengembangkan bahan bakar ramah lingkungan dari limbah plastik.

 

Inilah tiga mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (FT UB), Halifah Salsabila (Kimia), Galuh Wahyu Karti’a (Kimia), dan Fadhilah Al Mardhiyah (Teknik Kimia), di bawah bimbingan Dr. Yuniar Ponco Prananto, SSi, MSc, mengembangkan bahan bakar ramah lingkungan dari limbah plastik.

 

Mahasiswa sedang melakukan praktek membuat bahan bakar dari limbah plastik.

SALAH SATU anggota tim, Fadhila mengatakan, limbah plastik berpotensi sebagai minyak bahan bakar untuk mengatasi kelangkaan energi berkelanjutan.

Mahasiswa sedang melakukan praktek membuat bahan bakar dari limbah plastik.

“Karena hasil dari minyak pirolisis sampah plastik tersebut memiliki oktan yang cukup rendah, sehingga tim menambahkan bioaditif dari ekstrak daun jeruk purut. Karena komponen penyusunnya banyak mengandung oksigen, sehingga mampu meningkatkan pembakaran bahan bakar dalam mesin dan meningkatkan nilai oktannya,” kata Fadhila, belum lama ini.

Fadhila menambahkan, kandungan oksigen dalam daun jeruk purut dapat memaksimalkan proses pembakaran pada mesin. Ini berarti jumlah energi yang dihasilkan akan semakin besar, sehingga konsumsi bahan bakar pun akan semakin menurun.

Mahasiswa FT UB membuat bahan bakar dari limbah plastik dan ekstrak daun jeruk purut.

“Minyak daun jeruk purut sangat berpotensi menjadi zat aditif untuk bahan bakar minyak terutama RON 90 (Pertalite) dan RON 88 (Premium),” kata Halifah Salsabila, mewakili tim.

Untuk membuat bahan bakar, tim PKM RE tersebut  mencampurkan minyak daun jeruk purut kurang dari 1% volume minyak hasil pirolisis.

Meskipun hasil penelitian ini masih relatif awal, namun potensi eksplorasi bahan alam sebagai bioaditif dan formulasi bioaditif dengan sumber bahan bakar minyak lainnya masih terbuka lebar, terlebih di Universitas Brawijaya (UB) juga terdapat Institut Atsiri yang dapat membantu mahasiswa dan dosen untuk mengeksplor bioaditif ini lebih lanjut.

“Semoga penelitian ini dapat memberikan alternatif solusi dalam mengurangi tingginya jumlah sampah plastik di Indonesia menjadi produk yang layak dalam rangka ketahanan energi nasional. Selain itu, juga dapat membuka wawasan akan kekayaan alam Indonesia yang masih sangat bisa dikelola potensinya dan mendukung pencapaian SDGs nomor 7, yaitu energi bersih dan terjangkau,” harap Galuh.  (div/mat)