Kerupuk Singkong Bayem Menyebar di Jawa Timur

Masyarakat Dusun Giling, Desa Bayem, Kecamatan Kasembon, Kabupaten Malang, Jawa Timur sedang membuat kerupuk yang terbuat dari singkong.

MALANG, TABLOIDJAWATIMUR. COM – Keberadaan Desa Bayem, Kecamatan Kasembon, Kabupaten Malang, Jawa Timur, memang jauh dari pusat pemerintahan, sekitar 40 Km ke arah barat. Namun desa yang berbatasan dengan Kabupaten Kediri dan Kabupaten Jombang ini tak mau kalah bersaing dengan desa-desa lain. Segala potensi digali, termasuk industri pariwisata dan industri olahan ketela pohon. Hasilnya, Dusun Giling, Desa Bayem pun dikenal sebagai sentra kerupuk singkong.

 

KEPALA Desa Bayem, Khoirul Anam, menjelaskan, dari enam dusun di desanya, Dusun Giling dikenal sebagai sentra kerupuk singkong. “Dusun ini memang dikenal sebagai sentra kerupuk singkong dengan berbagai jenis (nama) kerupuk. Salah satunya kerupuk sermiler dan pertulo. Alhamdulillah, pasarnya cukup bagus,” katanya, Selasa (24/03/2020) siang.

Camat Kasembon, Kasiyanto.

Dia menambahkan, selama ini, biasanya singkong ditanam di plengsengan tegalan. Ada juga yang ditanam dalam satu kawasan perkebunan. Namun seiring dengan semakin banyaknya permintaan kerupuk, akhirnya para petani memperluas lahan perkebunan singkong. Saat ini, luas lahan kebun singkong sekitar 2 hektar.

Di tempat terpisah, Kaur Keuangan Pemerintah Desa Bayem, Dwi Awang, menjelaskan, produsen kerupuk singkong terpusat di Dusun Giling. Jumlahnya sekitar 50 orang. “Ada dua jenis kerupuk nyang diproduksi, pertulo dan sermiler. Untuk pertulo, jumlah produksinya sekitar 25 kg/orang/hari. Harga jualnya  Rp 15 ribu/kg. Sedangkan harga jual sermiler,  satu ikat  yang berisi 10 biji, dijual  Rp 3.500/ikat,” jelasnya.

Kepala Desa Bayem, Khoirul Anam.

Kerupuk produksi masyarakat Dusun Giling, Desa Bayem ini, pasarnya sudah menyebar di beberapa wilayah di Jawa Timur. Seperti  ke Kandangan, Pare (Kabupaten Kediri), Ngoro (Kabupaten Jombang), Kota Batu, dan Karangploso (Kabupaten Malang). “Biasanya dijual dalam bentuk mentah yang dikemasi dalam  kresek,” ujarnya.

Karena tingginya permintaan kerupuk singkong, membuat produsen harus mendatangkan bahan baku dari luar daerah, seperti dari Kediri. “Karena lahan perkebunan singkong di dusun ini terbatas, hanya sekitar 2 hektar, sehingga untuk memenuhi bahan baku kerupuk, produsen harus mendatangkan dari Kediri. Mereka beli bahan baku dengan harga sekitar Rp 2. 000 – Rp 3.000 per kilogram,” kata Dwi Awang.

Sementara itu, Camat Kasembon, Kasiyanto, merespon positif produksi kerupuk khas Dusun Giling, Desa Bayem yang menjadi produk unggulan ini. “Semoga usaha masyarakat ini makin berkembang, sehingga kesejahteraan masyarakat pun ikut terdongkrak,” harapnya.

Selain dikenal sebagai produsen kerupuk singkong, Pemerintah Desa Bayem juga mengembangkan pariwisata, salah satunya rafting. Menurut Kepala Desa Bayem, Khoirul Anam, wisata ini dikelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDes)  Artha Utama Mandiri.

“Kami berusaha membangun paket wisata yang disesuaikan dengan kondisi Desa Bayem. Seperti membuat industri rumahan berupa kerupuk yang terbuat dari singkong, dan wisata rafting. Semoga ke depan usaha ini semakin berkembang,” harapnya. (iko/mat)