TABLOID JAWA TIMUR

Informasi Daerah Jawa Timur

Kapolresta Malang Kota, Kombes Pol Leonardua Simarmata didampingi Kasubag Humas Ni Made Seruni Marhaeni memberikan keterangan.

15 Saksi Diperiksa, Tak Ada Keterangan Gesper

Inilah gedung SMPN 16 Kota Malang.

MALANG, TABLOIDJAWATIMUR. COM – Polisi terus mendalami kasus dugaan bully yang menimpa MS (13), siswa SMPN 16 Kota Malang. Hingga Rabu (05/02/2020) siang, sudah 15 saksi yang diperiksa. Sejauh ini petugas tidak mendapatkan keterangan gesper (ikat pinggang) dalam kasus ini.

 

PADAHAL, sebelumnya, gesper disebut-sebut sebagai penyebab jari korban kejepit yang berakibat amputasi. Malah Polisi telah menemukan alat bukti yang cukup guna meningkatkan status penyelidikan menjadi penyidikan.

“Sampai hari ini, 15 orang saksi sudah diperiksa. Beberapa alat bukti sudah ditemukan, dan sudah bisa meningkat ke penyidikan. Sejauh ini tidak ditemukan keterangan terkait gesper,” terang Kapolresta Malang Kota, Kombes Pol Leonardus Simarmata, Rabu (05/02/2020) siang.

Kapolresta Malang Kota, Kombes Pol Leonardua Simarmata didampingi Kasubag Humas Ni Made Seruni Marhaeni memberikan keterangan.

Beberapa alat bukti itu di antaranya hasil visum serta keterangan saksi. Untuk itu, dari sejumlah saksi, Polisi terus melakukan pendalaman tentang peran masing – masing. Dengan peran itu, nantinya penyidik akan bisa menetapkan status terperiksa. “Status masih saksi ya. Masih didalami peran masing- masing. Insya Allah setelah pendalaman, peran masing- masing bisa ada peningkatan status pelaku,” lanjutnya.

Sebelumnya, beredar di media sosial atas dugaan kekerasan di sekolah SMPN 16 Malang. Kepala Sekolah SMPN 16 Kota Malang, Syamsul Arifin membenarkan kejadian itu di lingkungan sekolahnya. Menurutnya, hal itu terjadi di sekolahnya Rabu, (15/01/2020), setelah sebelumnya menanyakan kepada para siswa.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kota Malang, Dra. Zubaidah, MM, menjelaskan, setelah kejadian tersebut, siswa yang bersangkutan sudah masuk sekolah. Namun, kemudian ijin tidak masuk karena sakit. “Setelah kejadian, hari berikutnya sudah masuk sekolah namun diperban. Bahkan sudah ikut Pramuka. Namun akhirnya ijin tidak masuk karena sedang dirawat di rumah sakit sampai saat ini,” terangnya.

“Ada kejadian itu, tapi tidak kekerasan. Itu guyon dengan teman – temannya di masjid,” imbuh Zubaidah. (ide/mat)