31 Agustus 2025

`

Dosen UB Latih Santri Nurul Muttaqin Albarokah Olah Susu

2 min read

MALANG, TABLOIDJAWATIMUR.COM – Sejumlah dosen Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya (Fapet UB) memberikan pelatihan pengolahan susu, hibah alat pasteurisasi, mesin chiller, serta budidaya lele sebagai upaya perbaikan gizi santri dan santriwati di Pondok Pesantren Nurul Muttaqin Albarokah, Kelurahan Tlogowaru, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang, Jawa Timur, Minggu (06/02/2022).

 

Inilah susu hasil olahan.

 

PARA dosen yang terlibat dalam pengabdian masyarakat ini di antaranya Dr. Tri Eko Susilorini  (ketua), Dr. Kuswati, Rini Dwi Wahyuni, M.Sc, Ria Dewi Andriani, M.Sc, Poespitasari Hazanah Ndaru,M.P., dan Wike Andre Septian, M.Si (anggota).

Menurut Icus —-sapaan akrab Dr. Tri Eko— mayoritas usia para santri dalam masa pertumbuhan, sehingga memerlukan asupan protein yang cukup. “Terlebih Ponpes Nurul Muttaqin Albarokah memiliki 351 santri, terdiri  dari 135 santri putra dan 216 santri putri yang memiliki permasalahan pemenuhan gizi,” katanya.

Sejumlah dosen Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya (Fapet UB) memberikan pelatihan pengolahan susu, hibah alat pasteurisasi, mesin chiller, serta budidaya lele sebagai upaya perbaikan gizi santri dan santriwati di Pondok Pesantren Nurul Muttaqin Albarokah,Kelurahan Tlogowaru, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang, Jawa Timur, Minggu (06/02/2022).

Pelatihan pengolahan susu tersebut mendatangkan praktisi sekaligus alumi Fapet UB, Dr. Dodik Suprapto, S.Pt.,M.Sc. Dia mengajarkan pembuatan dan pengemasan susu pasteurisasi kepada 12 santri dan santriwati, Minggu (06/02/2022).

Usai mendapatkan sekilas pengantar mengenai susu oleh Ria Dewi, M.Sc, peserta diajak mengolah 100 liter susu segar menggunakan alat pasteurisasi. Pasteurisasi ialah proses pemanasan menggunakan suhu di bawah 100 derajat celcius dalam jangka waktu tertentu.

“Tujuannya,  mematikan sebagian mikroba dengan meminimalisir kerusakan protein akibat suhu yang terlalu tinggi dan untuk memperpanjang daya simpan susu. Karena salah satu sifat susu segar adalah mudah rusak dan terkontaminasi,” terang Ria.

Pasteurisasi 100 liter susu menghasilkan 500 botol yang siap dibagikan kepada para santri. Selanjutnya Tim Fapet UB akan memberikan bantuan susu segar dan diolah secara mandiri oleh para santri. “Ke depannya,  kami berharap para santri mampu menjual susu pasteurisasi hasil olahan mereka sendiri, sehingga dapat menambah pendapatan bagi pondok sekaligus menumbuhkan jiwa wirausaha dan meningkatkan kreativitas,” kata Icus.

Di samping itu Icus dan timnya  juga akan memberikan bantuan bibit lele untuk budidaya sebagai sumber bahan makanan para santri. Pelatihan budidaya lele akan dipandu oleh Wike Andre, M.Si dan diterapkan pada kunjungan berikutnya. Sementara pembuatan kolam lele telah dilakukan. (div/mat)