DPKH: Produktivitas Daging Sapi Lokal Tinggi, Tak Perlu Impor

MALANG, TABLOIDJAWATIMUR. COM – Selama ini Kabupaten Malang dikenal sebagai daerah penghasil daging sapi dengan produktivitas yang cukup tinggi, oleh karena itu, menurut Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Kabupaten Malang, Nurcahyo, S.H,M.Hum, impor daging sapi untuk sementara ini belum dibutuhkan di Kabupaten Malang.

 

 

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Malang, Nurcahyo, S.H,M.Hum.

BERDASARKAN data DPKH Kabupaten Malang, dalam Triwulan IV atau Bulan Oktober sampai dengan Desember 2018, populasi sapi di Kabupaten Malang mencapai 332.238 ekor. Dari jumlah tersebut terbagi untuk populasi sapi potong 245.937 ekor dan sapi perah mencapai 86.301 ekor.

Menurut Nurcahyo untuk tahun 2018 data ternak keluar dari Kabupaten Malang, dalam hal ini sapi mencapai 1.727 ekor, dengan rincian jantan 1.587 ekor dan betina 140 ekor. “Kenapa lebih banyak yang jantan yang dijual keluar, karena betina dalam usia produktif kita jadikan indukan, sedangkan yang afkir baru kita jual keluar,” terang Kadis PKH Kabupaten Malang, Senin (18/03/2019).

“Artinya populasi di Kabupaten Malang cukup tinggi, dan produksi daging hanya kita serap 24 % saja, selebihnya kita jual ke luar wilayah Kabupaten Malang, seperti Jawa Timur, Kalimantan dan Bali. Kita saat ini mengalami surplus daging sapi sehingga tidak perlu mengimpor daging sapi,” tegasnya.

Rendahnya serapan daging sapi di Kabupaten Malang menurut pria yang pernah menjabat Kabag Hukum Kabupaten Malang, karena banyaknya pilihan sumber protein hewani lainnya. “Kita kan memiliki banyak subsitusi sumber protein hewani disamping daging sapi, seperti daging kambing, ayam, itik atau ikan, produktivitasnya tinggi di wilayah Kabupaten Malang, ini adalah salah satu keuntungan kita,” jelasnya.

Sebelumnya, Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Malang, Kusmantoro Widodo,SH, terkait dengan rencana Kementan RI di tahun 2019 yang akan mengimpor daging sapi sebanyak 256 ribu ton, pihaknya menghimbau kepada Pemerintah Kabupaten Malang agar tidak ikut-ikutan dengan membuka kran impor daging sapi.

“Kita tidak bermaksud menentang kebijakan pusat, itu kan untuk mencukupi kebutuhan nasional kita, tapi untuk Kabupaten Malang, saat ini mengalami surplus daging sapi, jika dilakukan impor kan kasihan para peternak sapi lokal kita, harga sapi bisa anjlok. Hal ini kan tugas kita untuk melindungi para peternak lokal kita,” tegas politisi Golkar asal Singosari. (diy)