25 April 2024

`

UM Tambah 6 Profesor Lagi

2 min read
“ Penggunanaan pasir besi menjadi penting sebagai bahan baku alternatif pengganti bahan baku komersial yang selama ini lazim digunakan. ”

MALANG, TABLOIDJAWATIMUR.COM – Universitas Negeri Malang (UM), Jawa Timur, mengukuhkan enam guru besar, Kamis (30/06/2022). Pengukuhan ini makin memperkuat eksistensi UM yang telah berstatus Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTNBH).

 

Universitas Negeri Malang (UM), Jawa Timur, mengukuhkan enam guru besar, Kamis (30/06/2022).

 

ENAM guru besar tersebut, Prof. Hadi Nur, Ph.D (Guru Besar Fakultas Matematika dan IPA), Prof. Dr. Ahmad Taufiq, S.Pd., M.Si. (Guru Besar FMIPA), Prof. Dr. Nasikh, S.E, M.P, M.Pd, (Guru Besar Ilmu Ekonomi Pertanian FEB), Prof. Dr. Sentot Kusairi, M.Pd (Guru Besar FMIPA), Prof. Dr. Sri Rahayu Lestari, M.Si, (Departemen Biologi, FMIPA),  dan Prof. Dr. Drs. H. Achmad Supriyanto, M.Pd, M.M, (Guru Besar Ilmu Manajemen).

Sebelumnya, Rabu ( 29/06/2022), mereka memaparkan  hasil penelitiannya. Prof. Hadi Nur, Ph.D, yang memberikan paparan pertama kali, menjelaskan tentang pentingnya peran dosen sebagai peneliti dalam proses pembelajaran berbasis penelitian. Konsep ini mendorong mahasiswa  bertindak sebagai peneliti.

Menurutnya,  kalimat, ‘peneliti yang baik adalah guru yang baik’  tepat untuk menjelaskan konsep ini. “Ada 8 pengalaman selama 20 tahun melakukan penelitian. Meliput, penelitian yang baik membutuhkan waktu. Dampak penelitian bukan berdasarkan indikator bibliometri seperti  impact factor, tetapi dampak nyata dari publikasi tersebut terhadap ilmu pengetahuan dan juga pembelajaran, dan sebagainya,” katanya.

Sedangkan Prof. Dr. Ahmad Taufiq, S.Pd., M.Si, telah ditetapkan sebagai profesor pada tahun 2021 dalam bidang Ilmu Fisika Material, FMIPA Universitas Negeri Malang (UM). Bahkan Taufiq memecahkan rekor sebagai profesor termuda di Universitas Negeri Malang, pada usia di bawah 40 tahun. Dia  termasuk profesor muda di Indonesia, khususnya dalam bidang Ilmu Fisika.

Pria kelahiran Probolinggo ini menyampaikan pidato pengukuhan guru besar dengan judul ”Nano-Magnetik Cair Berbasis Bahan Alam Indonesia: Fabrikasi dan Pengembangan Aplikasinya”.

Menurutnya, salah satu nanomaterial yang banyak dikaji para ilmuwan adalah nano-magnetik cair (ferofluida) , karena keunikan sifat dan performa aplikasinya. Dari beberapa alasan, nano-magnetik cair menjadi material cerdas (smart materials) karena memiliki keunikan dan keunggulan yang mampu mempertahankan keadaannya khususnya terkait sifat magnet layaknya benda padatan dalam bentuk cairan.

“Oleh sebab itu, kesuksesan fabrikasi nano-magnetik cair menjadi kunci penting yang harus dikembangkan. Secara umum, metode fabrikasi nano-magnetik cair diawali dari fabrikasi partikel nano-magetik melalui pendekatan top-down dan bottom-up. Dalam pendekatan top-down, fabrikasi nanopartikel dilakukan melalui pemecahan partikel berukuran besar menjadi partikel berukuran kecil dalam skala nanometer,” jelasnya.

Sementara dalam pendekatan bottom-up, fabrikasi dimulai dari atom-atom, molekul atau kluster yang dibentuk sedemikian rupa agar meghasilkan nanopartikel sesuai dengan ukuran dan bentuk yang diinginkan. Namun sayangnya, fabrikasi nano-magnetik cair pada umumnya selama ini masih menggunakan bahan baku komersial yang relatif mahal.

“Penggunanaan pasir besi menjadi penting sebagai bahan baku alternatif pengganti bahan baku komersial yang selama ini lazim digunakan,” tandasnya.

Oleh sebab itu, Prof. Taufiq bersama para tim risetnya mengembangkan inovasi baru melalui rekayasa fabrikasi nano-magnetik cair berbasis bahan alam Indonesia berupa pasir besi dan bahan alam lainnya. (div/mat)