23 April 2024

`

UM – BPBD Batu Ajari Guru SLB Antisipasi Bencana

2 min read

BATU, TABLOIDJAWATIMUR.COM – Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Ilmu Sosial (LP2M) Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang (UM) bekerjasama dengan BPBD Kota Batu menyelengarakan sosialisasi, edukasi, dan simulasi mitigasi bencana alam bagi guru untuk pengurangan resiko bencana di Sekolah Luar Biasa (SLB) se-Malang Raya, Rabu (08/09/2021) di JL. Masjid, Banaran, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu.

 

Sosialisasi, edukasi, dan simulasi mitigasi bencana alam untuk pengurangan resiko bencana di Sekolah Luar Biasa (SLB) juga dilakukan di luar ruang.

 

DIMAS Arif Dewantoro, M.Pd, ketua panitia, mengatakan, program ini adalah kelanjutan dari pengabdian masyarakat UM  yang dimulai tahun lalu. “Tahun ini program lanjutannya fokus perihal manajemen bencana. Yang kita kejar adalah kualitas SDM, ” katanya

Para peserta mengikuti sosialisasi, edukasi, dan simulasi mitigasi bencana alam untuk pengurangan resiko bencana di Sekolah Luar Biasa (SLB) se-Malang Raya, Rabu (08/09/2021) di JL. Masjid, Banaran, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu.

Dia menjelaskan, tujuan program ini adalah perihal pentingnya pengetahuan dini mitigasi bencana alam bagi guru SLB. Sehingga edukasi yang diberikan ini menjadikan ilmu bagi mereka untuk mengajarkan kepada para muridnya perihal kebencanaan. “Saat ini kami juga telah bekerjasama dengan 35 satuan sekolah pendidikan khusus di Malang Raya,” tegasnya.

Salah seorang panitia, Ardyanto Tanjung berharap, kolaborasi UM dengan BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) Kota Batu  dalam pendampingan guru SLB untuk pengurangan resiko bencana ini bermanfaat, minimal perintisan forum ini menjadi motor penggerak pengurangan resiko bencana bagi semuanya, terkhusus bagi warga SLB, karena  mereka rentan terhadap resiko bencana.

Gatot Noegroho, ST, Kepala Seksi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Batu yang juga sebagai pemateri utama menyampaikan, tujuan acara ini adalah untuk mengenalkan penerapan simulasi bencana alam bagi guru/pengajar kepada murid SLB, serta memberi pemahaman akan pentingnya pengetahuan kebencanaan di sekolah.

“Minimal merubah paradigma,  dimana penanggulangan bencana jangan dilihat dari responsif, tapi penangulangan bencana dilihat dari segi preventif. Iintinya,  dengan melakukan pencegahan dan kesiapsiagaan, warga sekolah dapat mengurangi resiko korban jiwa,” terangnya.  (div/mat)