13 April 2024

`

UB Kukuhkan Dua Profesor Lagi

3 min read

MALANG, TABLOIDJAWATIMUR.COM – Dua dosen Universitas Brawijaya (UB), Malang, Jawa Timur, Dr. Eng, Moch. Agus Choiron, ST., MT (Fakultas Teknik) dan Yusuf Hendrawan, STP., M. App. Life Sc., Ph.D (Fakultas Teknologi Pertanian), dikukuhkan sebagai guru besar, Selasa (31/05/2022).

 

Dua profesor yang dikukuhkan, Selasa (31/05/2022), Dr. Eng, Moch. Agus Choiron, ST., MT. (FT) dan Yusuf Hendrawan, STP., M. App. Life Sc., Ph.D (FTP).

 

Dr. Eng, Moch. Agus Choiron, ST., MT,  dikukuhkan sebagai profesor ke-16 dari FT dan ke 165 di UB serta menjadi professor ke 293 dari seluruh professor yang telah dihasilkan  UB.

Sementara Yusuf Hendrawan, STP, M. App. Life Sc., Ph.D,  dari Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) merupakan professor aktif ke-12 dari FTP dan professor aktif ke-166 di UB serta menjadi profesor ke 294 dari seluruh professor yang dihasilkan UB.

Prof Dr. Eng, Moch. Agus Choiron, ST., MT, memaparkan orasi perihal Rekayasa Desain Hexagonal Crash Box Untuk Short Crushable Zone Dengan Simulasi Komputer.

Menurutnya, perkembangan jumlah kendaraan bermotor di Indonesia sangat tinggi, khususnya pada segmen mobil penumpang, Sayang, peningkatan tersebut berbanding lurus dengan tingginya angka kecelakaan di Indonesia.

Dijelaskannya, crash box merupakan salah satu perangkat keselamatan pasif yang terletak di antara bumper dan frame yang berfungsi sebagai penyerap energi impak ketika terjadi tabrakan. Crash box berupa struktur berdinding tipis (thin-walled structure) yang diharapkan mengalami deformasi permanen untuk menyerap energi impak akibat tabrakan.

Pengujian crash box dapat dilakukan dengan uji frontal dan oblique impact test. Berdasarkan International Automotive Congress 2008,  terdapat beberapa pengujian arah frontal. Salah satunya,  tipe US-NCAP. Pengujian frontal dilakukan dengan menabrakkan 100% body mobil dengan sudut tabrak sebesar 0o dan kecepatan 56 km/jam atau 15.6 m/s.

“Dengan material carbon fiber diharapkan memiliki prospek yang menjanjikan sebagai struktur crash absorber di masa depan, “jelas Moch. Agus Choiron.

Keunggulan pengembangan model dengan simulasi komputer ini adalah mempercepat proses pengembangan produk dengan pengurangan trial and error.  “Kelemahan dari model desain ini adalah tantangan kompleksitas bentuk desain,  sehingga diperlukan proses manufaktur yang presisi untuk memproduksi   prototypenya,” kata Prof. Agus Choiron.

Sementara Prof. Yusuf Hendrawan menyampaikan orasi ilmiah berjudul Pemanfaatan Intelligent Bio-Instrumentation System dalam Pengembangan Pertanian Presisi di Era Revolusi Industri 4,0.

Yusuf Hendrawan merumuskan metode pengukuran objek hayati,  khususnya objek pertanian yang dinamakan Intelligent Bio-Instrumentation System (IBIS). “IBIS merupakan sebuah metode pengukuran objek hayati melalui analisis gambar digital yang didapatkan dari kamera digital. Analisis gambar digital ini menggunakan perangkat lunak berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence),” terangnya.

Menurutnya, keunggulan  IBIS adalah metode pengukuran yang tidak merusak objek pertanian yang diamati (non-invasive sensing), akurat, mudah digunakan, dapat dimanfaatkan dalam sistem kontrol pertanian supaya lebih efektif, alat pengukuran yang lebih murah, dan prosedur pengukuran yang lebih sederhana jika dibandingkan dengan metode pengukuran konvensional.

Kelemahan  metode IBIS yang telah dikembangkan adalah penggunaan kamera dan jenis pencahayaan yang masih sederhana saat pengambilan gambar objek pertanian.

Kombinasi antara berbagai jenis kamera cahaya tampak maupun kamera cahaya tidak tampak serta variasi jenis pencahayaan akan dapat meningkatkan kinerja IBIS. Pengembangan IBIS sangat bermanfaat untuk pertanian yang presisi,  khususnya di era revolusi indutri 4,0.

“Untuk membangun suatu sistem pertanian yang presisi,  diperlukan suatu sistem pengukuran karakteristik objek pertanian secara akurat, cepat, dan mudah. Selain itu juga diperlukan suatu sistem pengukuran respon tanaman terhadap perubahan lingkungan seperti perubahan suhu, kelembaban, cahaya, nutrisi, air, CO2, suara, dam sebagainya,” katanya.

Namun mengukur objek hayati khususnya objek pertanian bukanlah perkara yang mudah.  Karena sifat objek hayati memiliki karakteristik yang beragam, tidak statis,  dan sangat dinamis, sehingga sangat sulit untuk dimodelkan karakteristiknya secara kuantitatif. “Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi peneliti-peneliti yang mengembangkan sistem pengukuran untuk objek-objek hayati,” terangnya.

Sejak tahun 2020 hingga sekarang, Prof. Yusuf Hendrawan memanfaatkan metode IBIS untuk pengembangan pertanian presisi. Kemampuan IBIS untuk mengidentifikasi respon tanaman kemudian dimanfaatkan untuk membangun sistem komunikasi yang efektif dengan objek pertanian atau yang dinamakan sebagai metode Speaking Plant Approaches (SPA).  (div/mat)