13 April 2024

`

Staf Khusus BPIP: Demokrasi Pancasila, Titik Temu Keberagaman di Alam Kemerdekaan

2 min read
“ Demokrasi di Indonesia adalah demokrasi yang berbeda dengan semua sistem demokrasi dan politik yang tumbuh di dunia. Demokrasi Pancasila adalah demokrasi yang merdeka. Ini terjadi karena demokrasi Pancasila adalah demokrasi yang digali dari nilai-nilai keberagaman multidimensional yang merupakan kenyataan hidup bangsa Indonesia. ”

JAKARTA, TABLOIDJAWATIMUR.COM – Staf Khusus Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Romo Antonius Benny Susetyo, menegaskan, demokrasi di Indonesia adalah demokrasi yang merdeka. Karena digali dari nilai-nilai keberagaman multidimensional yang merupakan kenyataan hidup bangsa Indonesia.

 

Para peserta Seminar Demokrasi dan Rapat Kerja Nasional I Progressive Democracy Watch (Prodewa), Kamis (25/08/2022) di Jakarta.

 

HAL INI dia sampaikan saat menghadiri Seminar Demokrasi dan Rapat Kerja Nasional I seluruh  Indonesia  Progressive Democracy Watch (Prodewa), Kamis (25/08/2022) di Jakarta. Kegiatan yang diikuti kurang lebih 100 orang yang terdiri dari unsur Prodewa dan BEM seluruh Indonesia ini mengusung  tema  Refleksi Kemerdekaan Terhadap Perkembangan Demokrasi Indonesia.

“Demokrasi di Indonesia adalah demokrasi yang berbeda dengan semua sistem demokrasi dan politik yang tumbuh di dunia. Demokrasi Pancasila adalah demokrasi yang merdeka. Ini terjadi karena demokrasi Pancasila adalah demokrasi yang digali dari nilai-nilai  keberagaman multidimensional yang merupakan kenyataan hidup bangsa Indonesia,” katanya.

Staf Khusus Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Romo Antonius Benny Susetyo, mengisi materi pada Seminar Demokrasi dan Rapat Kerja Nasional I Progressive Democracy Watch (Prodewa), Kamis (25/08/2022) di Jakarta.

Dia menegaskan, demokrasi Pancasila tidak tunduk kepada para pemilik modal, tidak tunduk kepada kekuasaan. “Demokrasi Pancasila merupakan titik temu perbedaan- perbedaan yang ada di bangsa ini dan menjalinnya menjadi suatu kesatuan yang tujuannya semata- mata demi kesejahteraan seluruh lapisan masyarakat,” tandasnya.

Doktor komunikasi politik ini menjelaskan, dalam perjalanan demokrasi tentu saja tak ada yang sempurna. Ini terjadi karena  demokrasi berkembang sejalan dengan perkembangan zaman.  Demokrasi adalah proses dialektika, di mana keidealan hanya ada dalam tataran konsep.

“Yang menjadi tugas kita bersama adalah tetap menjaga demokrasi di Indonesia agar  tidak berkembang ke arah perpecahan bangsa. Karena esensi  Pancasila adalah gotong royong yang  hendaknya tetap menjadi tujuan pokok dalam kehidupan berdemokrasi kita, saling membantu untuk mencapai tujuan, dan mengedepankan musyawarah dalam mengambil keputusan. Hal ini  harus tetap dikedepankan sehingga kedaulatan rakyat tetap menjadi tujuan utama,” jelasnya.

“Kita sedang menghadapi pertarungan dominasi, khususnya kapital. Kita tidak bisa lagi seperti Plato yang menyatakan bahwa pemimpin yang ideal adalah yang sudah selesai dengan dirinya sendiri, seperti filsuf. Keberadaan demokrasi dan kepemimpinan saat ini tergantung pada modal dan kepopuleran, sehingga kedua hal tersebutlah yang menjadi dasar  masyarakat dalam memimpin,” tandasnya.

Budayawan ini juga menyatakan, seluruh bangsa Indonesia harus menyadari bahwa Pancasila adalah jalan tengah dan jawaban atas keberagaman multidimensional yang ada di Indonesia. Diharapkan segala unsur dalam negara ini mau membuka diri dan selalu membangun persatuan serta kolaborasi dalam berkehidupan bermasyarakat.  (mat)