18 Mei 2024

`

Ponpes Hidayatul Mubtadiin Ciptakan Santri Pancasila

2 min read

MALANG, TABLOIDJAWATIMUR.COM – Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) terus berupaya memberikan pemahaman nilai- nilai Pancasila kepada masyarakat. Salah satunya dilakukan dalam pembukaan Masa Taaruf Siswa Madrasah Matsama di Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiin, Kelurahan Tasikmadu, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, Jawa Timur, Sabtu (15/07/2023) siang.

 

Deputi Bidang Hukum Advokasi dan Pengawasan Regulasi BPIP, Kemas Akhmad Tajuddin, memberi sambutan saat pembukaan Masa Taaruf Siswa Madrasah Matsama di Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiin, Kelurahan Tasikmadu, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, Jawa Timur, Sabtu (15/07/2023) siang.

 

MASA Taaruf diisi dengan berbagai macam acara. Mulai tanda santri baru, penyerahan buku ajar Pancasila, penyerahan tali asih, kunjungan stand dan ziarah makam pendiri Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Hidayatul Mubtadiin, dan sebagainya.

Sejumlah undangan menghadiri pembukaan Masa Taaruf Siswa Madrasah Matsama di Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiin, Kelurahan Tasikmadu, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, Jawa Timur, Sabtu (15/07/2023) siang.

Deputi Bidang Hukum Advokasi dan Pengawasan Regulasi BPIP, Kemas Akhmad Tajuddin, SH, MH, menjelaskan, tantangan nilai- nilai Pancasila saat ini lebih berat, karena mulai ditinggalkan. “Nantinya ada buku ajar Pancasila untuk sekolah. Karena kehadiran BPIP adalah untuk meningkatkan kembali ideologi dan nilai Pancasila. Salah satunya, azas tolong- menolong, gotong royong antar masyarakat,” terangnya saat memberikan sambutan di hadapan ratusan siswa siswi, termasuk sejumlah anggota DPRD Kota Malang, DPR RI, dan sejumlah undangan lainnya, Sabtu (15/07/2023).

Untuk itu BPIP segera mengeluarkan buku Ajar Pancasila untuk mata pelajaran di sekolah. Isinya, 70 persen perbuatan nilai Pancasila sekaligus contoh kongkritnya, sehingga bisa langsung dipraktekkan. Sedangkan 30 persen lagi teori untuk dipraktekkan dalam kehidupan sehari- hari. Bahkan para pendidiknya juga akan diberi pelatihan.

Sementara itu, Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiin, Hj. Nurlaila, SPd , melalui humas, Ginanjar Yoni Wardoyo, ST,MT, CEIA, menjelaskan, pesantrennya menjadi prototipe dengan mensinergikan kurikulum santri dengan kurikulum Pancasila.

“Untuk itu kami juga mengembangkan mutu akademik agar lulusannya bisa mengaplikasikan nilai- nilai pancasila, bisa diterapkan dalam kehidupan sehari -hari di sekolah pondok. Bahkan menjadikan santri Pancasila,” terangnya.

Selain itu, lanjut Ginanjar Yoni Wardoyo, pihaknya juga menerapkan ekonomi Pancasila dengan menghimpun sejumlah pelaku usaha di sekitar pondok. Bahkan, walisantri juga sebagai wirausaha. “Kami menyiapkan lokasi untuk bazar di lingkungan sekolah. Mereka sudah bekerjasama, sehingga berkolaborasi, gotong royong dalam manajemen hingga pemasaran agar ada nilai lebih,” katanya. (aji/mat)