13 April 2024

`

Mahasiswa MIPA UB Ciptakan Krim Anti Jerawat Dari Limbah Kulit Durian

1 min read
Inilah lima mahasiswa MIPA UB yang berhasil menciptakan krim anti jerawat dari kulit durian.

MALANG, TABLOIDJAWATIMUR.COM – Lima mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Brawijaya (UB), Malang, Jawa Timur, berhasil membuat krim anti jerawat yang dikombinasikan dengan bahan dasar limbah kulit buah durian. Diharapkan krim anti jerawat ini dapat membantu permasalahan penderita jerawat.

 

PARA mahasiswa MIPA itu adalah, Putri Ayu M, Nur Khasanah, Annindea Erza N, Dzurrotin Qurrota A, dan Dita Rahmaningtyas. Mereka dibimbing Zubaidah Ningsih AS, S.Si., M.Phil., Ph.D.

Salah satu mahasiswa MIPA UB sedang melakukan penimbangan bahan untuk membuat krim anti jerawat.

“Krim anti jerawat berbahan dasar limbah kulit buah durian dinilai lebih efektif dengan daya hambat sebesar 18,1 mm dibandingkan produk di pasaran yang mengandung tree tea oil dengan daya hambat sebesar 15,8 mm. Selain didukung dengan kemampuan daya hambat yang tinggi, kulit buah durian memiliki senyawa anti bakteri, seperti flavonoid, saponin, tannin, terpenoid, dan alkaloid,” kata Nur Khasanah, salah satu mahasiswa, belum lama ini.

Nur menambahkan, pengobatan jerawat yang umum dijumpai adalah pengobatan dengan cara dioleskan pada kulit (pengobatan topikal) dan dikonsumsi,  seperti obat (pengobatan sistemik).

“Pengobatan secara oles pada kulit memiliki efektifitas lebih tinggi dibandingkan pengobatan yang diberikan secara oral,  karena hal tersebut dapat menimbulkan resistensi antibiotik di dalam tubuh. Sehingga untuk mendukung pengobatan secara oles dibuatlah krim anti jerawat melalui sebuah teknologi bernama nanoemulsi,” terang Nur.

Inilah krim anti jerawat dari kulit durian.

Putri Ayu, mahasiswa lainnya menjelaskan, teknologi nanoemulsi yang terdiri dari fase minyak dan air dengan ukuran droplet <200 nm serta luas permukaan yang besar ini,  dapat memberikan efek hidrasi, sehingga meningkatkan permeabilitas kulit dalam penetrasi obat dan mengurangi resiko peradangan jerawat.

“Suatu teknik yang mendukung teknologi nanoemulsi ini adalah teknik mikrofluidisasi. Teknik ini dipilih karena dapat bekerja tanpa menaikkan temperature sistem dan ukuran droplet nanoemulsinya dapat dikontrol sehingga dapat dihasilkan krim anti jerawat dengan daya penetrasi yang lebih baik,” terang Putri Ayu.

Ada beberapa tahap proses pembuatan krim kulit durian. Pertama, kulit durian dibersihkan terlebih dahulu, dipotong tipis-tipis bagian dalam kulitnya. Kedua, dilakukan pengovenan pada suhu 60°C selama 2 X 24 jam. Ketiga, dilakukan penimbangan dan penghalusan menggunakan blender, lalu diayak. Keempat, dilakukan ekstrasi secara maserasi,  kemudian dipisah pelarutnya menggunakan rotary evaporator hingga memperoleh ekstrak kulit buah durian.

Menurut Putri Ayu, berdasarkan uji bakteri yang telah dilakukan, didapatkan kesimpulan bahwa melalui teknik mikrofluidisasi dapat memengaruhi ukuran partikel sehingga diperoleh ukuran partikel yang lebih kecil dan memudahkan nanoemulsi gel masuk ke dalam sel bakteri, sehingga didapatkan daya hambat yang lebih lebar. “Diharapkan,  dengan krim anti jerawat ini dapat membantu permasalahan penderita jerawat,” harapnya.  (div/mat)