16 Juni 2024

`

Jelajah Situs Pawitra 17 di Hutan Sukamerta Genting (6)

3 min read

Candi Yudha Tersembunyi, Candi Naga 1 Banyak Ularnya

 

MOJOKERTO, TABLOIDJAWATIMUR.COM – Setelah berlama-lama menikmati Candi Merak yang banyak reliefnya, peserta melanjutkan perjalanan  menuju Candi Lemari. Perjalanan yang ditempuh cukup melelahkan. Apalagi jalurnya licin dan menanjak tajam usai menyeberangi sungai. Di jalur ini panitia memasang tali untuk membantu peserta, agar tak terpeleset.

 

Peserta Jelajah Situs Pawitra (JSP) 17 berfoto di peninggalan leluhur untuk menghilangkan rasa capek. (foto : Muhammad Fahmi, Ketua Umum JSP)

 

TIDAK sampai 15 menit, peserta pun sampai di tangga Candi Almari yang berbuat dari batu alam. Naiknya lumayan tajam. Namun sampai di pelataran candi, peserta  bisa istirahat sambil menikmati pemandangan nan indah. Gunung Bekel yang berada di samping kiri candi.

Candi Lemari dan Naga 1, paling banyak dijadikan latar belakang foto. (foto : Muhammad Fahmi, Ketua Umum JSP)

Candi Lemari Situs,  salah satu situs punden berundak yang tidak menempel ke dinding bukit. Hanya tertata kotak altarnya saja. Candi ini paling indah pemandanganya, karena berada di tengah-tengah antara Gunung Penanggungan di depan, Gunung Bekel di sebelah barat,  dan Gunung Gajah Mungkur di sebelah barat laut, dan tidak terhalang apa pun saat cuaca cerah.

Candi Yudha

Naik lagi sekitar 5 menit, peserta sampai di Candi Yudha. Dalam foto masa kolonial, candi ini berangka tahun 1408 Saka/ 1486 Masehi. Masih terdapat altar-altar setengah bulan dan relief bunga-bubga indah kas pegunungan.

Ada juga relief seorang pengembara yang kebingungan arah. Ada umpak yang berganbar. Layaknya situs candi berundak di Penanggungan, Candi Yudha masih cukup bagus. Pemandangan dari sini sama dengan di Candi Lemari yang tidak menempel pada dinding bukit. Hanya saja lokasi candi tersembunyi di balik rerimbunan rumput gajah yang tingginya melebihi tinggi orang dewasa.

Peserta Jelajah Situs Pawitra (JSP) 17 berfoto di peninggalan leluhur untuk menghilangkan rasa capek. (foto : Muhammad Fahmi, Ketua Umum JSP)

Candi Pandawa

Hanya dalam hitungan detik, peserta sampai di Candi Pandawa. Bagi masyarakat Jawa, nama Pandawa tidak asing lagi. Yaitu sebutan lima tokoh pewayangan, dalam satu keluarga dari wangsa Barata. Keluarga Pandu Dewanata yang mempunyai lima orang putra dari dua istri. Dewi Kunthi dan Dewi Madrim.  Anak-anak Pandu itulah yang disebut Pandawa Lima.

“Tapi kali ini kita membahas situs yang diberi nama Pandawa. Menariknya bangunan candi ini terbuat dari batu alam dan andesit. Dibentuk kotak-kotak, campuran. Tidak ada relief sama sekali di candi ini,” tutur Sanan Surya Sindhu Patih, sembari menunjuk bebatuan di depannya.

Di bawah halaman depan candi tersebut ada tangga batu sampai ke lembah. Menyambung dengan jalur kuno sampai ke Situs Candi Naga 1.

Candi Naga 1

Situs terakhir penjelajahan JSP 17 kali ini, dengan ketinggian 1.000 Mdpl. Candi Naga 1 sangatlah eksotis, menempel di tubuh Gunung Bekel sebelah timur. Dari pelataran pemandangan sangat indah saat pagi dan sore hari, ketika matahari terbit dan terbenam.

Peserta Jelajah Situs Pawitra (JSP) 17 berfoto di peninggalan leluhur untuk menghilangkan rasa capek. (foto : Muhammad Fahmi, Ketua Umum JSP)

Candi ini memiliki tangga cukup tinggi. Terbuat dari batu andesit, dibentuk kotak persegi. Hanya saja saat ini tangganya tertutup rerimbunan pohon kaliandra, sehingga peserta melewati jalur samping kanan candi. “Ada dua relief seperti gading gajah. Diduga sisa dari pasangan Kalamerga. Masih ada ukelan-ukelan tangga naik ke altar candi,” kata Kang Sindhu.

Tentang nama Candi Naga 1, menurutnya saat merestorasi ulang di masa kolonial, banyak ditemukan ular di reruntuhan bangunann. Diberi angka 1, karena di Pawitra banyak nama Candi Naga yang lainnya. (adi/mat/bersambung)