13 April 2024

`

Jaga Ketersediaan Air Bersih, Pemkot Malang Gandeng Jasa Tirta 1

3 min read

MALANG, TABLOIDJAWATIMUR.COM – Keterjaminan layanan air minum bagi masyarakat Kota Malang, Jawa Timur, bisa makin maksimal. Ini setelah Pemkot Malang menjalin kerjasama dengan Perum Jasa Tirta 1 tentang penyediaan air bersih curah dan bidang usaha lainnya, di Kantor PJT 1 Malang, Sabtu (31/12/2022) siang.  

 

Wali Kota Malang, Drs. H. Sutiaji didampingi Direktur Utama PJT 1 Dr. Ir. Raymond Valiant Ruritan, ST, MT, menandatangani kerjasama dengan Perum Jasa Tirta 1 tentang penyediaan air bersih curah dan bidang usaha lainnya, di Kantor PJT 1 Malang, Sabtu (31/12/2022) siang.

 

SEBELUMNYA, Pemerintah Kota Malang dan Pemerintah Kabupaten Malang juga sudah menjalin kerjasama  tentang pemanfaatan Sumberpitu di Kecamatan Tumpang  dan Sumber Wendit di Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang untuk kebutuhan bersih.

Penandatanganan kesepakatan antara Pemkot Malang dan   Perum Jasa Tirta 1 dilakukan Wali Kota Malang,  Drs. H. Sutiaji dan Direktur Utama PJT 1 Dr. Ir. Raymond Valiant Ruritan, ST, MT.

Dengan kerjasama ini berarrti program Water Treatment Plant (WTP) akan dimulai di tahun 2023.  “Awal Januari 2023 akan dilakukan penandatanganan PKS (perjanjian kerjasama). Insyaallah akhir Agustus 2023 program sudah bisa digunakan. Nanti secepatnya kami lakukan lelang. Targetnya,  sebelum September 2023 air sudah bisa diproduksi dan masuk sistem layanan Perumda Tugu Tirta,” ungkap Raymond.

Wali Kota Malang, Drs. H. Sutiaji dan Direktur Utama PJT 1 Dr. Ir. Raymond Valiant Ruritan, ST, MT, menunjukkan nota kesepakatan kerjasama.

WTP akan memanfaatkan air Sungai Bango dengan kapasitas 200 liter/detik (lps). Sungai Bango dipilih karena kualitas air bakunya dianggap lebih baik. Dengan demikian, proses penjernihan akan lebih mudah dan lebih murah dari pada harus memanfaatkan air Sungai Brantas.  “Proses penjernihan menggunakan metode filtrasi dan dilakukan sesuai standar Permenkes. Tidak menutup kemungkinan ke depan bukan hanya memanfaatkan Sungai Bango, bisa Sungai Metro juga,” lanjut Raymond.

Sementara untuk sistem sewa lahan masih akan dimatangkan antara Pemkot Malang dan PJT 1. Ada satu lahan milik pemkot di Kelurahan Pandanwangi, Kecamatan Blimbing yang dibidik. Luasannya hampir 8 hektar, tapi untuk pembangunan fasilitas WTP kemungkinan hanya akan memakan 20% luasan lahan atau hanya 1,8 hektar. Sisanya masih bisa dimanfaatkan untuk ruang terbuka hijau.

Raymond menjelaskan, kerjasama ini akan bersifat investasi Build Operate Transfer (BOT) selama 20 tahun.  “Nantinya kita harapkan dari 200 lps bisa meningkat sampai 1.500 lps dalam lima tahun. Sehingga kemandirian air minum tercapai di Kota Malang. Masuknya 200 lps ke sistem layanan Perumda Tugu Tirta, paling tidak membuat layanan ke pelanggan bisa lebih stabil di tahun 2023,” terangnya.

Hal itu diamini Direktur Utama Perumda Tugu Tirta, M Nor Muhlas,  S.Pd, MSi. “Saat ini kita sepakati 200 lps dulu. Nanti baru bertahap bisa ke 300 lalu 500 lps. Tidak langsung. Plus minusnya sudah kita pertimbangan sesuai dengan kajian Tim Review WTP,” katanya.

Meski sudah memanfaatkan WTP, pihaknya memastikan akan tetap memaksimalkan layanan yang sudah ada dari sumber-sumber mata air dan reservoir yang tersebar sehingga ketersediaan suplai aman dan layanan optimal.

“Dengan jumlah pelanggan saat ini mencapai 175.000 sambungan rumah (SR), maka kapasitas iddle kita nantinya harus mencukupi. Jadi ini merupakan strategi back up, tanpa harus lepas dari air sumber yang selama ini kita manfaatkan. Jika layanan sudah stabil, maka kita bisa menyediakan layanan untuk lebih banyak SR atau pelanggan dan mendorong Pemkot Malang  untuk mengeluarkan regulasi baru terkait layanan air minum di Kota Malang,” tandas Muhlas. (div/mat)