22 Februari 2024

`

Gara-Gara Home Stay, Warga Gubuk Klakah Kesulitan Air

3 min read

MALANG, TABLOIDJAWATIMUR. COM – Menjamurnya bisnis home stay di Desa Gubuk Klakah, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, Jawa Timur, membuat warga kesulitan air bersih. Sudah beberapa bulan ini air masyarakat tidak mengalir.

 

 

Landung Sugiantoro, warga RT 1/RW 1 Desa Gubuk Klakah, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, Jawa Timur memperlihatkan saluran air HIPAM miliknya yang sudah beberapa bulan ini tak mengalir.

KETUA RT 1 /RW 02 Desa Gubuk Klakah, Suwartono, di sela sela kegiatan Bersih Desa Gubuk Klakah ke- 73 mengatakan, warganya kesulitan air bersih. “Beberapa bulan ini sejumlah warga di tiga RW, yakni RW 1 sampai 3 kesulitan air bersih. Bukan karena kekeringan, namun pasokan air ke warga yang selama ini dipasok oleh HIPAM (Himpunan Kelompok Pemakai Air Masyarakat) tidak mengalir,” terangnya, Minggu (09/09/2018).

Kepala Bagian Umum dan Humas PDAM Kabupaten Malang, Eko Priyo Ardianto.

Kondisi ini membuat sebagian warga Gubuk Klakah harus mencari air ke sumber mata air atau mengambil air dari mushola. Bahkan harus membeli air bersih untuk keperluan sehari-hari. “Karena kebutuhan air tidak bisa ditunda, maka apa pun akan ditempuh oleh warga,” kata Suwartono.

Tidak mengalirnya air bersih dari sumber mata air Watu Pecah yang dikelola HIPAM, masih kata Suwartono, ditengarai sebagai dampak akibat menjamurnya home stay di Desa Gubuk Klakah.

Sebagai desa yang masuk dalam kawasan wisata Bromo Tengger Semeru (BTS), Gubuk Klakah memang merupakan salah satu desa yang menjadi persinggahan wisatawan yang mau ke Gunung Bromo atau Semeru. Peluang ini kemudian dilirik sebagian warga dengan menjadikan rumah mereka sebagai home stay. Sayangnya air bersih yang digunakan pemilik home stay juga mengambil dari saluran HIPAM. Celakanya untuk mendapatkan debit air yang banyak, para pengelola home stay diduga mengisap air dari saluran HIPAM dengan mesin pompa air berkekuatan tinggi (jet pump).

“Kebutuhan air di home stay kan lebih besar, makanya mereka, para pengelola home stay kemudian banyak yang menyedot dengan pompa air. Otomatis warga yang hanya mengandalkan dari pipa HIPAM tidak kebagian air,” jelas Ketua RT 1/RW 2 Desa Gubuk Klakah.

Menurut Suwarsono, seharusnya, pengelola HIPAM membuat meteran air untuk pemilik home stay. “Harusnya di home stay itu dikasih meteran. Kalau seperti ini, kami yang rugi. Sama-sama bayar Rp 10 ribu satu bulan, namun warga tidak mendapat air,” keluhnya.

Landung Sugiantoro (55), warga RT 1 / RW 02 Desa Gubuk Klakah juga mengeluhkan hal yang sama. “Dulu, meskipun kemarau, kami tidak pernah kesulitan air bersih. Tiga tahun terakhir ini,  dengan banyaknya home stay, setiap kemarau, kami selalu kesulitan air bersih,” kata Landung yang mengaku warga asli Desa Gubuk Klakah.

“Akibat dari kesulitan air, selain mengganggu keperluan air besih di rumah, juga mengganggu penyiraman tanaman di kebun,” imbuh Landung.

Menanggapi keluhan warga, Kepala Bagian Umum dan Humas PDAM Kabupaten Malang, Eko Priyo Ardianto mengatakan, persoalan air bersih yang sering mati yang dialami sebagian warga Desa Gubuklakah, karena masalah teknis perpipaan saja.

“Sebab, seringkali kita ketemukan pipa yang dipasang oleh pengelola sumber mata air dalam pemasangannya tidak memenuhi standar. Sehingga pasokan air ke rumah-rumah warga sering mengalami trouble atau gangguan. Selain itu, retribusi yang dikenakan ke warga terlalu murah, sehingga pengelola kesulitan dalam melakukan perawatan pipa,” jelas Eko.

Karena itu Eko meminta warga untuk membuat surat yang intinya meminta bantuan kepada Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Cipta Karya (DPKPCK) Kabupaten Malang, agar bisa memecahkan persoalan tersebut. “PDAM pun akan melakukan koordinasi dengan DPKPCK agar keluhan warga Desa Gubuk Klakah yang butuh air bersih terpenuhi,” tandasnya. (diy)