22 April 2024

`

Dekan FKH UB : Jangan Khawatir Wabah PMK

2 min read

MALANG, TABLOIDJAWATIMUR.COM – Dekan Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Brawijaya (UB), Malang, Jawa Timur,  drh. Dyah Ayu Oktavianie, A.P, M.Biotech,  menghimbau  masyarakat agar  tidak perlu khawatir terhadap wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) yang menyerang sejumlah hewan ternak di beberapa daerah di Jawa Timur.

 

drh. Dyah Ayu Oktavianie, A.P, M.Biotech

“MASYARAKAT tidak perlu khawatir,  karena PMK bukan penyakit zoonosis. Bahkan sampai saat ini belum ada kasus penularan dari hewan ke manusia di Indonesia,” kata Dyah, Kamis (12/05/2022) siang.

Dyah menegaskan, masyarakat tetap bisa mengkonsumsi daging dan susu sapi dengan pengolahan yang sempurna. “Ini yang harus dipahami masyarakat bahwa tidak perlu takut mengkonsumsi daging dan susu. Tapi pengolahannya harus  benar sehingga virus menjadi in-aktif,” katanya.

Dia menambahkan, dalam upaya penanganan dan pencegahan meluasnya wabah PMK pada hewan ternak, Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) UB siap berkontribusi, bekerjasama dengan dinas terkait. Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Jatim II siap melakukan  pemeriksaan kesehatan dan pengobatan ternak, serta edukasi kepada para kelompok ternak sapi maupun kambing dan Koperasi Unit Desa (KUD) di wilayah Malang Raya.

“Kami siap membantu pemerintah dalam penanganan wabah PMK ini dengan menerjunkan tenaga medis veteriner yang ada di fakultas. Edukasi juga akan kami lakukan dalam bentuk komunikasi informasi dan edukasi (KIE). Tujuannya,  memberikan informasi terkait penanganan hewan ternak yang terkena PMK,” jelasnya.

Dyah menambahkan, melalui edukasi, diharapkan tidak ada kepanikan yang berujung pengambilan keputusan yang salah dari para peternak atau jagal hewan.  Apalagi sampai menjual hewan yang terkena PMK dengan harga di bawah harga pasar.

“Dalam KIE kami  juga akan memberikan pemahaman kepada masyarakat terkait bagaimana mengolah daging dan susu yang benar, sehingga tetap aman untuk dikonsumsi,” katanya.

Ditambahkan Dyah, sebenarnya Indonesia sudah dinyatakan terbebas dari PMK sejak tahun 1990- an. Wabah yang terjadi saat ini  kemungkinan berasal dari lalu lintas hewan ternak atau bahan pangan asal hewan dari luar Indonesia. “Makanya  pemerintah memberlakukan pembatasan wilayah khususnya lalu lintas hewan ternak pada daerah wabah  agar tidak semakin meluas,” katanya.

Sedangkan bagi sapi yang saat ini sudah terindikasi terkena PMK, bisa diberikan vitamin untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Selain itu bisa dilakukan terapi symptomatis dan  pemberian antibiotik untuk mengatasi infeksi sekunder.

“Virus tersebut menyerang hewan ternak yang mempunyai daya tahan tubuh rendah. Pada sapi muda bisa berakibat kematian. Sehingga angka mortalitas pada sapi muda (pedet) cukup tinggi,”  tegasnya.  (div/mat)