25 April 2024

`

Daerah Rawan Gempa Sebaiknya Buat Rumah Tahan Gempa

3 min read

MALANG, TABLOIDJAWATIMUR.COM – Masyarakat yang berada di daerah rawan gempa, seperti di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, sebaiknya membangun rumah tahan gempa. Meski pembuatan rumah tahan gempa  biayanya mahal, namun bisa disiasati dengan menggunakan bambu, rotan, atau kayu sebagai pengganti tulangan baja.

 

Salah satu rumah rusak parah saat gempa melanda Kabupaten Malang, Jawa Timur, setahun yang lalu.

 

SARAN ini disampaikan Ir. Erwin Rommel, MT, dosen Teknik Sipil yang juga menjabat Kepala Badan Pengawasan Pembangunan Kampus (BP2K) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jawa Timur, Kamis (24/11/2022) siang.

Terkait spesifikasi rumah tahan gempa, dia menjelaskan, untuk membangun rumah sederhana tahan gempa, ada sederet hal yang harus diperhatikan. Pertama, membuat bangunan dengan bentuk sesimetris mungkin. Kedua, cukup tersedianya pengaku pada dinding.

“Minimal setiap 12 meter persegi luasan dinding harus diberikan kolom dan balok praktis. Ketiga, memberi pengangkuran yang cukup pada setiap sambungan elemen pada bangunan. Misalnya,  sambungan dari dinding ke balok pondasi, sambungan dinding ke kolom, atau sambungan balok ke konstruksi atap,” ujarnya.

Ir. Erwin Rommel, MT.

Dia menjelaskan, ada beberapa model bangunan sederhana tahan gempa sudah dikenalkan kepada masyarakat oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman (Puskim), Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Di antaranya, rumah sederhana tahan gempa berbahan kayu, bambu, dan beton. Spesifikasi utama yang harus dipenuhi agar rumah tahan gempa yakni adanya integritas bangunan.

Rumah tahan gempat dapat tercipta jika seluruh elemen bangunan, mulai  pondasi, balok sloof, kolom, dinding, serta balok atap,  tersambung dengan baik dan benar. Selain itu, perlu adanya penyalur beban dari satu elemen ke elemen lain agar bangunan tidak mudah runtuh dan dapat menahan beban gempa.

Cuma dalam realisasinya, pembuatan rumah tahan gempa membutuhkan biaya lebih mahal dibanding rumah pada umumnya. Namun Erwin mengatakan, hal tersebut bisa disiasati dengan penggunaan bahan-bahan bangunan yang tersedia di sekitar lingkungan tempat tinggal. “Masyarakat bisa menggunakan bambu atau rotan sebagai pengganti tulangan baja. Selain itu, penggunaan kayu juga bisa menjadi alternatif bahan pengganti lainnya,” jelasnya.

“Intinya, konsep pembangunan rumah tahan gempa adalah membuat bangunan menjadi lebih ringan, lebih daktail, dan adanya penyaluran beban dari setiap elemennya sampai ke pondasi. Jika kita bisa memanfaatkan kekayaan alam sebagai pengganti bahan bangunan, maka rumah tinggal tahan gempa bisa menjadi lebih murah dan terjangkau di masyarakat,” tegas Ketua Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia (HAKI) Malang Raya ini.

Dalam pembangunan rumah tahan gempa, selain mengikuti regulasi Kementrian PUPR, Erwin juga memberikan beberapa tips lainnya. Salah satunya, mengetahui perkembangan kondisi patahan atau sesar yang ada di sekitar tempat tinggal. Hal ini dimaksudkan agar masyarakat memahami tingkat kerawanan gempa pada desain bangunan agar bisa lebih siap.

Selanjutnya, memberikan edukasi kepada masyarakat tentang mitigasi dan penyelamatan korban. “Perlu adanya edukasi kepada masyarakat tentang antisipasi dan mitigasi ketika terjadi gempa bumi. Selain itu, pemerintah daerah dan pusat bisa melakukan pemetaan dan relokasi secara menyeluruh terhadap bangunan-bangunan yang telah berdiri. Utamanya terhadap bangunan yang berada di jalur sesar dan yang berpotensi  menjadi sesar aktif di kemudian hari,” pungkasnya.

Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), menyampaikan, gempa yang melanda Cianjur, Jawa Barat, Senin (21/11/2022) merupakan siklus 20 tahunan.

Menurut Ir. Erwin Rommel, MT, ada beberapa hal yang membuat banyak bangunan roboh saat gempa berkekuatan 5.6 magnitudo itu menerjang Cianjur. “Beberapa penyebabnya, posisi pusat gempa, jenis patahan, kondisi lapisan tanah, serta kondisi bangunan yang ada di Cianjur,” katanya.

Erwin menjabarkan, pusat gempa di Cianjur berada pada jalur sesar Cimandiri dengan kedalaman kurang dari sepuluh kilometer yang masuk dalam kategori gempa dangkal. Selain dekat dengan pusat gempa, karakteristik tanah di daerah ini relatif labil. Hal ini terlihat dari topografi tanah yang berupa lereng-lereng bukit dan pegunungan.

“Kondisi tersebut menyebabkan tanah menjadi rawan longsor jika terjadi gempa. Sebagian besar bangunan yang berdiri di daerah Cianjur adalah bangunan rendah dan bangunan sederhana yang belum memenuhi kaidah rumah tahan gempa. Kebanyakan masyarakat awam beranggapan bahwa gempa yang terjadi lebih berdampak signifikan pada bangunan tinggi saja,” jelasnya. (div/mat)