22 April 2024

`

Bupati – Ketua PWBU Hadiri Gelar Yasa Gegaman Keris Pusaka Garudha Nuswantara

2 min read
Bupati Malang, HM Sanusi menempa keris saat menghadiri Gelar Yasa Gegaman Keris Pusaka Garudha Nuswantara di Besalen Condroaji Singosari, Jl. Tumapel, Kelurahan Pagentan, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Senin (19/12/2022) siang.

MALANG, TABLOIDJAWATIMUR.COM – Bupati Malang, HM Sanusi bersama Ketua PWNU Jatim, KH Marzuki Mustamar, menghadiri Gelar Yasa Gegaman Keris Pusaka Garudha Nuswantara di Besalen Condroaji Singosari, Jl. Tumapel, Kelurahan Pagentan, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur,  Senin (19/12/2022) siang.

 

Bupati Malang, HM Sanusi menerima keris saat menghadiri Gelar Yasa Gegaman Keris Pusaka Garudha Nuswantara di Besalen Condroaji Singosari, Jl. Tumapel, Kelurahan Pagentan,  Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur,  Senin (19/12/2022) siang.

 

Bupati Malang, HM Sanusi didampingi Ketua PWNI Jatim, KH Marzuki Mustamar, menandatangani berkas menghadiri Gelar Yasa Gegaman Keris Pusaka Garudha Nuswantara di Besalen Condroaji Singosari, Jl. Tumapel, Kelurahan Pagentan, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Senin (19/12/2022) siang.

PADA kesempatan itu, Bupati Malang juga menyaksikan prosesi Purwa Tinempa sekaligus turut menempa Keris Pusaka Garudha Nuswantara. “Kabupaten Malang dianugerahi warisan adat, budaya, dan pariwisata yang  luar biasa. Maka dari itu, sudah menjadi kewajiban bagi kita melestarikan dan mencintai nilai maupun perwujudan fisik dari peninggalan yang syarat sejarah tersebut,” katanya.

Bupati Malang, HM Sanusi dikawal para cantrik saat menghadiri Gelar Yasa Gegaman Keris Pusaka Garudha Nuswantara di Besalen Condroaji Singosari, Jl. Tumapel, Kelurahan Pagentan, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Senin (19/12/2022) siang.

Mantan Wakil Ketua DPRD ini sangat mengapresiasi panitia yang sudah susah payah mengadakan kegiatan tersebut. Dia berharap, penempaan keris, pengenalan metalogi, eksoteris, dan isoteris tentang keris dapat dipahami oleh generasi muda. “Saya berharap generasi muda harus memahami tentang keris. Tidak hanya sebagai gaman, tapi sebagai budaya yang adiluhung,” ujarnya.

Apalagi UNESCO —organisasi kebudayaan dunia di bawah naungan PBB— sudah mengakui keris sebagai mahakarya nenek moyang. “Mahakarya kebudayaan nusantara ini harus dihargai. Dengan digelarnya kegiatan ini bisa melestarikannya sehingga para pengrajin keris, emiliki medium untuk menampilkan karya mereka. Kegiatan macam ini harus terus dilestarikan agar nilai budaya  tidak hilang,” harapnya.   (bri/mat)