20 Mei 2024

`

Angkat Minyak Kemiri, Mahasiswa ITN Raih Best Presentation

2 min read

MALANG, TABLOIDJAWATIMUR.COM – Tiga mahasiswa S1 Teknik Kimia Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang, Jawa Timur, meraih Best Presentation Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) Eric Matriks #5 2022, November 2022. 

 

Tiga mahasiswa S1 Teknik Kimia Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang, Jawa Timur, meraih Best Presentation Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) Eric Matriks #5 2022, November 2022.

 

DALAM event yang diselenggarakan secara online oleh UKM Erick Matriks, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) ini, ITN tergabung dalam Tim Nareswara. Mereka terdiri dari Veronica Putri Iswono (ketua), Natasya Geulla Shalomita dan Mardhiyah Aliyatus Sya`ni. Ketiga mahasiswa angkatan 2020 ini bersaing dengan lebih dari 20 peserta LKTI dari seluruh Indonesia.

Menurut Veronica, merujuk pada tema LKTI ‘Peran Mahasiswa dalam Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi sebagai Agent of Change dalam Mewujudkan Sustainable Development Gold (SDGs)’,  Tim Nareswara mengangkat judul LKTI ‘Implementasi Biodiesel Green Environment Berbasis Limbah Kemiri Sebagai Bahan Bakar Alternatif’.

“Dalam LKTI ini kami memanfaatkan buah kemiri menjadi biodiesel sebagai bahan bakar alternatif,” ujar Veronica Putri Iswono, Ketua Tim Nareswara saat dihubungi lewat sambungan whatsapp awal pekan kemarin.

Menurut Veronica, biodiesel sebagai bahan bakar alternatif menjadi aspek penting pada saat ini. Melihat kondisi persediaan minyak bumi di Indonesia yang semakin menipis, maka perlu dilakukan inovasi baru untuk mengatasi krisis bahan bakar dengan cara memanfaatkan bahan baku alternatif dari menir kemiri.

Limbah kemiri atau sering disebut juga menir kemiri banyak mengandung minyak kemiri. “Minyak kemiri mengandung banyak sekali asam lemak seperti asam palmitat, asam stearat, asam oleat, asam linoleat, asam linolenat, dan asam aracidat. Sehingga, menir kemiri memiliki potensi yang besar apabila penggunaannya dimaksimalkan pada pembuatan biodiesel, jelasnya.

Dia menambahkan, limbah kemiri biasa didapat dari pemecahan gelondongan kemiri. Limbah ini relatif banyak jumlahnya, dan tidak dimanfaatkan. “Nah, kami berusaha manfaatkan untuk biodiesel,” imbuhnya.

Melimpahnya limbah kemiri di Indonesiag berpotensi diolah sebagai bahan baku biodiesel. Proses pembuatannya memanfaatkan proses esterifikasi dan transesterifikasi. Proses esterifikasi digunakan untuk menurunkan kadar free fatty acid yang ada dalam minyak kemiri. Kandungan free fatty acid dapat menyebabkan reaksi yang tidak sempurna pada prosesnya,  sehingga gliserol yang dihasilkan nanti akan sulit dipisahkan.

Proses selanjutnya adalah transesterifikasi. Proses penyempurnaan dari proses esterifikasi untuk mengubah minyak kemiri menjadi biodiesel dengan memanfaatkan katalis basa (KOH) untuk mempercepat reaksi di dalamnya. Reaksi yang terjadi dalam tahap ini adalah reaksi alkoholis, dimana terdapat penambahan metanol di dalam prosesnya.

Selain itu pemanfaatan limbah kemiri dapat memberikan inovasi dan solusi bagi gelondongan pemecah kemiri untuk menciptakan industri zero waste. Serta dapat membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang. “Gagasan kami ini nantinya dapat dilanjutkan ke penelitian. Sehingga dapat mengetahui efektifitas bahan bakar alternatif biodiesel dari menir kemiri terhadap perkembangan biodiesel di Indonesia,” tutupnya. (div/mat)