22 April 2024

`

353 Burung Nuri dari Malang Gagal Diselundupkan ke Medan

2 min read
burung paruh bengkok (burung nuri) yang diselundupkan dari Malang.
Contoh burung paruh bengkok (burung nuri) yang diselundupkan dari Malang, Jawa Timur ke Bandara Kualanamu, Medan, Sumatera Utara, namun berhasil diamankan petugas di Bandara Soekarno Hatta, Kota Tanggerang, Provinsi Banten, Sabtu (19/05.2018).

MALANG, TABLOID JAWA TIMUR. COM – Sebanyak 353 ekor burung paruh bengkok (nuri) yang diselundupkan dari Malang, Jawa Timur  ke Bandara Kualanamu, Medan, Sumatera Utara, berhasil diamankan petugas di Bandara Soekarno Hatta, Kota Tanggerang, Provinsi Banten, Sabtu (19/05.2018).

 

DARI informasi yang berhasil dihimpun, ratusan burung tersebut dikirim dari Bandara Abdurrahman Saleh, Kabupaten Malang, melalui cargo pesawat Sriwijaya. Sedianya burung-burung nuri tersebut akan dikirim ke Bandara Kualanamu, Medan.

Beruntung, saat transit di Bandara Soekarno Hatta, sekitar pukul 13.07 WIB, sebanyak 353 burung yang terdiri nuri merah (eos borneo) 78 ekor, 1 ekor mati, nuri dusky (Pseudeos fuscata) 30 ekor, nuri pelangi (Trichoglossus haematodus) 173 ekor, nuri tanimbar (Eos reticulata) 30 ekor, berhasil diamankan oleh tim Polisi Hutan Bandara KSDA DKI Jakarta.

Burung-burung tersebut terpaksa diamankan petugas karena ilegal, karena tidak disertai Surat Angkut Tumbuhan dan Satwa Dalam Negeri (SATS-DN) dari BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam) Jawa Timur.

Kepada awak media, Imam Pujiono, dari BKSDA Malang membenarkan penggagalan penyelundupan ratusan burung yang habitat aslinya di Maluku dan Papua tersebut. “Benar mas, kita kemarin menerima informasi dari BKSDA DKI bahwa telah ada pengamanan sejumlah burung di Bandara Soeta yang dikirim dari Bandara Abdurrahman Saleh tanpa dilengkapi SATS-DN. Ini adalah ilegal,” tegas Imam, Minggu (20/05/2018).

Bandara Soekarno Hatta Cengkareng
Bandara Soekarno Hatta Cengkareng, Banten masih rawan penyelundupan.

Menurut Imam, burung dari famili parrot ini masuk dalam kategori Apendiks 2. “Memang belum dilindungi. Tapi untuk mengambil dan membawa dari habitat aslinya,  harus ada ijin dari BKSDA berupa SATS -DN itu tadi. Tujuannya, agar tidak terjadi pengambilan secara besar-besaran di alam bebas,” terang Imam.

Lebih lanjut Imam masih menunggu  BKSDA DKI untuk menyelidiki siapa yang mengirim ratusan burung itu. “Kami masih melakukan koordinasi dengan BKSDA DKI dan instansi terkait,  siapa yang pengirimnya. Karena, burung tersebut dikirim lewat jasa penitipan barang. Sekalian nanti koordinasi untuk pelepasliaran kembali ke alam bebas,”tandas Imam. (diy)