25 April 2024

`

1.700 Koi Dilombakan di Malang Koi Show

2 min read
“ Pengembangan puluhan CoE di UMM bukan tanpa alasan. Tahun 2030 menjadi awal puncak bonus demografi. Maka dengan CoE, diharapkan lahir sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni dalam menyongsong bonus demografi. ”

MALANG, TABLOIDJAWATIMUR.COM – Sebanyak 1.700 ekor ikan koi dipamerkan dalam Malang Koi Show  di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jawa Timur, Sabtu (27/08/2022). Kompetisi ini dibuka Bupati Malang, HM Sanusi dengan melepas ikan koi ke dalam akuarium.

 

Tim penilai Malang Koi Show di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jawa Timur, Sabtu (27/08/2022).

 

Bupati Malang, HM Sanusi bersama Rektor UMM, Dr. Fauzan, melepas koi ke dalam akuarium saat pembukaan Malang Koi Show di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jawa Timur, Sabtu (27/08/2022).

BUPATI Malang, HM Sanusi, menilai, UMM selalu menangkap potensi dan peluang yang bisa dikembangkan. Salah satunya peluncuran CoE Sekolah Keahlian Koi. Dari sisi ekonomi, berbisnis ikan cukup menguntungkan. “Di lahan seluas setengah hektar di Tumpang dapat menghasilakn Rp 350 juta dalam waktu enam bulan. Maka dalam setahun dapat mendapatkan Rp 700 jutaan.

“Jika dibandingkan dengan penghasilan petani padi, dalam enam bulan mencapai Rp 40 juta dan setahun Rp 80 juta. Maka bisnis ikan tentu menguntungkan, apalagi dalam usaha ikan koi. Malang Koi Show ini menjadi agenda yang bagus untuk mengembangkan bisnis ikan koi dan sebagai upaya edukasi,” terangnya.

Para peserta Malang Koi Show di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jawa Timur, Sabtu (27/08/2022).

Sedangkan Rektor UMM, Dr. Fauzan, menjelaskan, Malang Koi Show menjadi salah satu energi pendorong bagi kelas profesional koi untuk berkembang. Apalagi sejauh ini UMM menjadi satu-satunya perguruan tinggi yang memiliki CoE Koi.

“Pengembangan puluhan CoE di UMM bukan tanpa alasan.  Tahun 2030 menjadi awal puncak bonus demografi. Maka dengan CoE, diharapkan lahir sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni dalam menyongsong bonus demografi,” kata Fauzan.

Menurutnya,  lulusan perguruan tinggi belum cukup menjawab permasalahan di masyarakat dan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri. Sebagian besar harus mengikuti pelatihan selama enam bulan hingga setahun agar bisa menjadi SDM siap pakai yang sesuai dengan kebutuhan industri. “Puluhan CoE sekolah profesional ini hadir membawa angin segar untuk menjawab itu,” katanya. (div/mat)